Archive

Posts Tagged ‘demo’

Ngga Habis Pikir …

February 7, 2009 kembars Leave a comment

Di media lagi rame diulas berita tentang follow up tragedi Medan, pejabat kepolisian langsung dimutasi, dan jumlah tersangka bertambah panjang.

Lha iya, bangsa ini kok ngga belajar-belajar ya? Yang miris, ketika nonton rekaman kejadian, yang beringas malah adik-adik yang berjaket almamater … mau jadi apa masa depan negara ini kalau mahasiswanya aja begitu? Yang menarik, tentu, dengan adanya rekaman diputar ulang oleh media seperti itu semua wajah pelaku terekam jelas. Istilah sepak bolanya, terjebak “off-side” … Jadi meringankan tugas pak polisi, meski setahu saya biasanya Pak Polisi juga bawa handy cam untuk merekam kejadian di lapangan.

Pertanyaan yang sering mengganggu saya, dalam aksi seperti itu, sebenarnya fungsi pak polisi sebagai pencegah atau sebagai pendeteksi?

Saya ingat ketika saya terjadi aksi -lagi-lagi- mahasiswa di depan kampus UNIKA Atmajaya Sudirman beberapa waktu lalu yang “memakan” korban sebuah mobil minibus. Habis dibakar! Saya tahu persis jauh sebelum peristiwa pembakaran terjadi, ketika beberapa mahasiswa menutup Jalan Sudirman, aparat sudah hadir di lapangan (dengan handy cam, hehe). Dan karena lokasinya yang berjarak hanya hitungan ratusan meter dari markas kepolisian di Semanggi, jumlahnya lumayan banyak. Jadi dari awal aksi hingga terjadinya pembakaran, mestinya sudah terpantau dari menit ke menit. Maka dari itu ketika sebuah minibus diberhentikan dengan paksa, penumpangnya dipaksa turun, mobil digoyang2, dibalik dan kemudian di bakar … saya heran, kok dibiarkan? Kenapa? Apa karena jumlah? Apa karena menunggu ada yang melanggar UU dulu? Apa memang prosedurnya bilang begitu?

Jangan-jangan itu yang terjadi ketika terjadi kerusuhan dalam aksi di Monas (soal Ahmadiyah) atau yang di Medan barusan? Ketidakjelasan Role di lapangan? Atau ekspektasi kita sebagai warga negara terlalu berlebihan?

Ibaratnya jika di dunia IT Security dikenal 3 jenis pengendalian: preventive, detective dan corrective yang semuanya bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya insiden keamanan. Maka, scope tugas pak polisi sampai sejauh mana? Saya takut paradigma Bapak-Bapak petugas di lapangan masih seperti yang sering dibicarakan orang, menunggu ada pelanggaran dulu, baru ditindak.

Bagaimana sih sebenarnya?

Categories: opini Tags:

Demo, Murni Aspirasi atau Gaya Hidup?

May 28, 2008 kembars Leave a comment

Seminggu ini media nasional rame memberitakan aksi mahasiswa yang katanya sedang memperjuangkan rakyat karena kenaikan harga BBM. Di Unas, bentrok Polisi dan mahasiswa tidak bisa dihindari. Di UKI, Cawang, demo mahasiswa rusuh sampai menimbulkan ‘chaos’ lalu lintas. Di Mustopo, mahasiswa memukuli seorang polisi yang hampir masuk masa ‘MPP’. Kalau sedang begini, memang yang kasian ya polisi … mereka yang selalu berhadapan langsung dengan massa.

Kemarin pagi, sebuah radio di Jakarta membahas masalah ini. Menarik … karena semua sms yang masuk dan dibacakan isinya mengecam aksi-aksi mahasiswa yang mengatas namakan rakyat tapi malah bikin kacau dan ruwet Jakarta. Ujung-ujungnya malah menghubungkan antara aksi anarkis mahasiswa dengan “kualitas” universitasnya. “Siapa dulu yang sekolah di situ?” atau “Yang begitu ngga bakal kejadian di sekolah yang bener.” “Yang masuk situ kan dulu emang ketika SMU hobinya tawuran”. “Siapa sih yang mereka wakili?”

Ketika konfrensi pers bentrok Unas, polisi membeberkan barang bukti antara lain berupa bom molotov dan banyak (Masya Allah) botol minuman keras.  Memang keberadaan barang-barang ini belum dikonfirmasi oleh pihak kampus. Dulu juga pernah saya baca, ketika demo besar saat mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR tahun ‘98, banyak ditemukan (maaf) kondom bekas tercecer di seputaran gedung. Bener atau tidak? Wallahualam.

Yang saya takutkan, mereka melakukan aksi tanpa tahu apa yang mereka perjuangkan, gagal di akademis kemudian melampiaskan rasa ke ajang demo, ikutan aksi biar dibilang keren, atau jangan-jangan sang kordinator ngga mampu mengendalikan peserta demo (ini mah soal teknis di lapangan).

Jaman saya kuliah dulu, yang paling ditakuti ketika berdemo adalah masuknya provokator (“intel” yang menyamar) di peserta demo.

Ah, mudah-mudahan cepet selesai.

Categories: iseng, opini Tags: , ,