Archive

Posts Tagged ‘Dream Theater’

Disappear

October 29, 2009 kembars Leave a comment

originally taken from http://www.lyrics-tabs.com/d/dreamtheater-tabs-010361219/disappear-tabs-0065354481.html

=================

Artist: Dream Theater Tabs
Song Tabs : Disappear

#----------------------------------PLEASE NOTE----------------------------------#
# This file is the author's own work and represents their interpretation of the #
# song. You may only use this file for private study, scholarship, or research. #
#-------------------------------------------------------------------------------#

Year:======================2002==============================
====================Music=by=Dream=Theater===================
====================Lyrics=by=James=LaBrie===================
=============================================================

This song is great, I think it's one of the best from this
6th DT studio release. It is very easy to play.
I'm not too sure about the chords in parenthesis, because of
those noisy keyboard parts, but they should sound well.
This sounds great played on an acoustic guitar!

Normal tuning (EBGDAE)
Acoustic tone
Strum the chords 

    Dm       G       Am        C

    Dm   G                   Am   C
    Why, tell me the reasons why
    Dm   G                  Am     C
    Try, still I don't understand
    Dm   G               Am      C
    Will I ever feel this again
    Dm   G    Am                   C
    Blue sky, I'll meet you in the end
    Dm   G     Am                   C
    Free them, free the memories of you
    Dm   G   Am                     C
    Free me, and rest 'til I'm with you

    (F)            (B)
       A day like today
               (Am)      (G)
       My whole world has been changed
      (F)         (Bb)
       Nothing you say
               (E)      (F)
       Will help ease my pain

    Dm    G                     Am     C
    Turn, I'll turn this slowly round
    Dm    G                  Am     C
    Burn, burn to feel alive again
    Dm   G                     Am   C
    She, she'd want me to move on
    Dm  G   Am                   C
    See me, this place I still belong
 Dm      G        Am                     C
    Give chase, to find more than I have found
 Dm     G     Am                  C
    And face, this time now on my own

(F)          (B)
    Days disappear
          (Am)        (G)
    And my world keeps changing
(F)           (Bb)
    I feel you here
          (E)      (F)     B
    And it keeps me sane

Bbm               C#
    So I'm moving on
                  C#
    I'll never forget
           Fm             Ab
    As you lay there and watched me
Bbm               C#
    Accepting the end
                    C#
    I knew you were scared
             Fm             Ab
    You were strong I was trying
Bbm               C#
    I gave you my hand
                C#                     Fm     Ab
    I said it's okay letting go time to leave here
Bbm               C#
    And I'll carry on
                    C#                     Fm
    The best that I can without you here beside me
C#               F#   Eb  F
    Let him come take you home

 Dario Di Martino
darluis@virgilio.it
Categories: chord Tags: ,

DT Shows Reports on Detik.Com

February 5, 2006 kembars Leave a comment


Sabtu, 28/01/2006 07:37 WIBMengejar Dream TheaterMulai Hutang Kantor Sampai tinggalkan Istri HamilPuteri Fatia – detikHot

Penggemar Dream Theater (fta/hot)–>Singapura, Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina, kejarlah Dream Theater sampai ke Singapura. Mungkin itulah pepatah penggemar Dream Theater. Demi menonton grup ini ada penggemar yang sampai ngutang dulu. Waduh!Berbeda dengan konser Backstreet Boys yang digelar di tempat yang sama beberapa hari sebelumnya, ada yang berbeda dari konser Dream Theater. Aura persaudaraan dan satu tujuan terlihat dari penonton yang datang.

Penonton yang datang ke konser ini umumnya adalah penggemar setia yang hafal betul tentang grup ini. Tak hanya sekedar lirik, tapi juga fakta sampai cara memainkan lagu Dream Theater.Dream Theater tak hanya sekedar idola tapi panutan idealisme dalam bermusik. Kepiawaian para anggota yang dinilai para penggemar di atas rata-rata band lain menjadi salah satu hal yang paling menarik dari band ini.

“Dream Theater unggul banget dalam hal teknik, penguasaan instrumen, konsep musik maupun lirik,” ujar Sigit, seorang penggemar asal Indonesia ketika ditemui wartawan detikhot Puteri Fatia di Singapore Indoor Stadium, Jumat (27/1/2006).Sigit adalah salah satu penggemar yang kecewa grup cadas ini batal main di Jakarta. Namun perjuangan menonton langsung Dream Theater tak berhenti sampai disitu saja. Jika bisa mengejar ke negeri seberang, kenapa tidak?Demikian juga dengan Ari, adik Sigit. Untuk menonton konser ini ia meninggalkan istrinya yang sedang hamil menunggu di hotel.

Tak sedikit orang Indonesia yang ditemui di konser ini. Sebuah milis classic rock yang beranggotakan 500-an orang juga mengkordinir anggotanya untuk berangkat.”Ada sekitar 30 orang dari kita yang berangkat. Tapi pisah-pisah,” ujar Vivi, karyawan bank pemerintah yang menggunakan kaus bertuliskan ‘When Dream Theater and Indonesia Unite?”Kaus itu dibuat karena kekecewaan Dream Theater yang batal main di Indonesia. Mereka tetap berharap suatu saat grup pujaannya berani bertandang ke Indonesia.

Lain lagi kisahnya dengan Jack dan Walter. Dua bule asal Australia itu pergi dengan budget minim dan semangat tinggi. Keduanya mengaku telah menunggu selama 10 tahun untuk bisa menyaksikan langsung Dream Theater. Makan pas-pasan dan hidup secukupnya tak masalah demi menyaksikan langsung grup dengan hits ‘Octavarium’ itu.

Indra penggemar asal Padang juga punya cerita sendiri. Untuk menyaksikan band pujaannya, Indra naik bus ke Batam dan menyebrang ke Singapura. Di Singapore Indoor Stadium inilah dia baru membeli tiket pertunjukannya.”Tak taulah bagaimana jika tiket habis. Sudah habis pula uang untuk pergi kesini,” tutur Indra.Tentu tak sedikit uang yang dihabiskan untuk menonton pujaan secara langsung di depan mata. Setidaknya minimal Rp. 3,5 juta harus diperas dari kantong.Namun para penggemar tak kehilangan akal. Berhutang pun tak masalah. “Kasbon kantor dulu. Nanti potong gaji,” jelas Agung karyawan sebuah Bank Swasta Asing. “Saya masih pinjam sama kakak,” timpal Indra.

Salah satu penggemar yang patut diacungi jempol adalah Koji Muraya asal Jepang. Saking gila Dream Theater, Koji rela mengikuti rangkaian konser ‘20th Anniversary Tour’ dari Amerika, Canada, Korea, Jepang, hingga Singapura. Total, sudah 24 pertunjukan Dream Theater yang ia tonton.Namun pengorbanan tersebut sepertinya terbayar dengan setimpal. Semua keluar ruangan konser dengan senyum tersungging.”Buat kita yang ngefans, ini seperti mimpi. Bisa ketemu langsung. Kadang masih nggak percaya kalau bisa nonton konser ini,” imbuh Vivi semangat.

Ingin tahu seperti apa aksi-aksi mereka yang terekam dalam kamera. Simak foto-fotonya.

Categories: iseng, opini Tags:

When My Dream and DT Unite

February 3, 2006 kembars Leave a comment

Sore itu, duduk dan melihat sendiri panggung yang akan dipakai untuk konser DT malam itu adalah seperti berada dalam mimpi. Tertutup oleh back-drop hitam, 4 speaker set di kiri dan kanan stage, indoor stadium Singapore yang megah … ah, gw ngga pernah membayangkan bisa berada di sini.

Perjuangan menuju ke hari itu adalah sungguh2 perjalanan panjang. Mulai dari iming2 promotor bahwa DT akan mampir di Jakarta, pembatalan, memikirkan kemungkinan pergi ke Singapore, itung2 ongkos -compare2, nego ama istri (thanks Hon, you’re the best!), hunting tiket (konser dan pesawat – thanks Bro Yoga and Didin, nice to do business with you guys!), persiapan konser -ngapalin lagu (salute untuk mas Gatot & Bro David Dewata for organize us), ambil kaos ‘When Dream Theater and Indonesia Unite” (proficiat untuk Bro Andre Solucite), dan perjalanan Jakarta-Batam-Singapore Harbour Front bareng M-Claro Guys(meet Mr. Goh -you’re the man!) – Indoor Stadium adalah momerable moment yang gak bakal gw lupa sampai tua nanti.

Nyampe di Stadium sekitar 18.30 langsung nyerbu loket SISTIC untuk exchange tiket. Abis itu nyerbu counter merchandise yang ada di bawah, tapi buset … penuh banget. Ada kaos (black & white design tee), poster, and CDs official bootleg. Black tee langsung sold-out! Fortunately, karena gw sedang dalam mode ‘back-packers’ dan ngga bawa cash banyak, gw passed aja deh …. :-(

Tadinya gw pengen potret2 seperti yang pernah gw lakukan di Java Jazz, tapi ngga tau deh … rasanya being here is an ultimate dream already, udah ngga punya keinginan laen. Gw ngga terlalu nafsu ‘ngelolosin’ digicam gw ke dalem. Gw pegang aja dah, lolos syukur… harus titip yo wis-lah. Sementara temen2 gw laennya pada pake trik2 khusus yang beberapa berhasil lolos ada juga yang ketangkep. Alhasil, security langsung memerintahkan gw untuk menitipkan digicam gw ke loker. Yo wis-lah ….

Di dalem, terkagum2 ama design di dalam stadium “wah, indo ketinggalan berapa tahun ya?”. Meski duduk agak jauh (T04 berada di tribun belakang, persis depan panggung), tapi karena persis berhadapan di depan panggung bisa dapet full view dari panggung dan nangkep sound yang lumayan. Di sebelah kiri gw Bro Didin & Yoga. Ngga lama, kursi sebelah kanan gw terisi dan ternyata 2 orang indo dari Tebet. Yang satu udah 2x nonton show DT pas di Paris, wuih ! Depan gw, satu deret bule2 muda (tampang high school) ditemani seorang yang berumur -mungkin salah seorang orang tua dari mereka.

Lihat sekeliling, ngga terlalu penuh nih stadium. Konon kapasitasnya 8000 dan malam ini hanya terisi 4000, sayang ya … coba di Jakarta. Eh, banyak juga “mahluk lucu” yang nonton lho … Gw ngga yakin, apa mereka bener2 tahu apa yang mereka bakal tonton malam ini … ’snob’ kali ya :-)

Sambil nunggu, temen baru gw -yang duduk di sebelah- bilang setting di Sing ini lebih “minimalis” kalo dibanding pas di Paris dulu. Emang sih, gw agak kaget kok panggungnya “termasuk” minimalis gini? Entar gimana ya? Gak lama, tirai penutup warna item turun … waaaa, pada tereak orang2 dikirain udah mau maen. Padahal crew DT lagi beres2. Tapi beneran lho … minimalis bgt! Ssatu drum set Portnoy di tengah2 (double bass), 1 buah keyboards dan 1 lagi ngga tau apaan di kiri panggung milik Rudess, 2 buah stand microphone, effect punya Myung di kiri dan Petrucci di kanan, Speakers set di kiri dan kanan panggung, sisanya backdrop hitam. Gitu aja ….

Begitu sosok yang seperti Petrucci muncul di stage (meski belum maen, sepertinya lagi mastiin soundnya OK) penonton udah tereak2 ngga keruan. Pas jam 9, lampu dimatiin … dan juedderrr !!!!! The Root of All Evil played. Backdrop gambar album Octavarium muncul, dan penonton VIP yang bayar Sin $150 pada semburat ke depan panggung …. hehehe.

pic: courtessy Bro David Dewata

======================================
Liputan konser saya cuplik aja dari tulisan Bro Sigit dr milis M-Claro (tulisan ini udah bisa merepresentasikan keadaaan di sono)

Urutan setlist lagu:

  1. THE ROOT OF ALL EVIL
  2. PANIC ATTACK
  3. A FORTUNE IN LIES
  4. UNDER A GLASS MOON
  5. LIE
  6. PERUVIAN SKIES dengan bumbu sedap Pink Floyd dan Metallica
  7. STRANGE DEJA VU
  8. THROUGH MY WORDS
  9. FATAL TRAGEDY
  10. 6D0IT PART 6: SOLITARY SHELL
  11. 6DOIT PART 7: ABOUT TO CRASH
  12. 6DOIT PART 8: LOSING TIME/GRAND FINALE
    —15 min intermission—
  13. AS I AM
  14. ENDLESS SACRIFICE
  15. I WALK BESIDE YOU
  16. SACRIFICED SONS
  17. OCTAVARIUM dengan bumbu variasi keys Jordan
    —encore—
  18. SPIRIT CARRIES ON (duh, stadium serasa mau runtuh)
  19. PULL ME UNDER segue into METROPOLIS PT.1

Performance Notes:
Mau bilang apa lagi ya? Bapak-ibu-mas-mbak-oom-tante … sumpah deh,ini adalah band performance paling tight, paling perfect yang pernahsaya lihat selama ini. Edan. Bener-bener gila. Dan mereka juga lebih aktraktif ketimbang DVD Live At Budokan lho. Petrucci banyak gerak. Myung malah sampe nyebrang sayap. Berpose “Soneta” – Myung & Petrucci. LaBrie bantuin Jordan mencet keyboard. “The Camel” Portnoy, buset ludahnya muncrat bisa jauh bener, hehehehe. Solid. Semua ultra solid. Padahal gangguan teknis lumayan banyak juga. Sound tidak rata terutama di awal, yah okelah teknisinya mungkin masih puyeng kemaren abis melayani Backstreet Boys. In-ear monitor LaBrie sempat mati sehingga sangat mengganggu segmen “Intervals” dari lagu OCTAVARIUM. UntungPortnoy cukup kalem menghandle situasi ini.

Gear Notes:
Myung kelihatannya
stabil dengan Yamaha signature-nya. Kali ini ndak bawa Chapman Stick. Portnoy tampil minimalis setelah tampil ultra-over-the-top di era Train Of Thought dengan Siamese Monster-nya. Set kali ini lebih mirip era Images. Relatif simple. Petrucci setia dengan Music Man signature-nya juga. Double-neck 6-12ndak keluar. Untuk beberapa lagu menggunakan 7 string. Ada juga modelhybrid elektrik akustik dengan 3 tone control dan 2 switch. Yang menarik (barangkali ada yang bisa kasih pencerahan), ada satu gitar yang rasanya kok necknya panjang banget, dan posisi “neck” pickupnya aneh, agak di tengah. Sementara bridge-nya jauh banget di ujung,nyaris di pinggir bodi. Baritone guitar-kah ini??? Oh ya nanya lagi buat gitaris. Kayanya ndak ada model yang pake locking nut. How the hell did he stay in tune?? Apa lagi whammy bar diperkosa abis sepertidi solonya SACRIFICED SONS, I repeat, HOW THE HELL DID HE STAY IN TUNE??? Rudess, nah ini paling banyak mainan barunya. Sebagai konsol utamatetap Kurzweil K2600 yang di atasnya dipasangi Music Pad Pro,pedal-pedal di bawah. Rudess juga main lap steel, Fender FS52. YangPALING ASIK adalah mainan tergres yang baru dipamerkan di albumOctavarium, yaitu “keyboard masa depan”, Continuum Fingerboard bikinanHaken Audio. Wuahhhhh keren broooo …. nikmati dia in action nyarisdi keseluruhan lagu Octavarium!!!

pic: courtessy Bro David Dewata

====================================
Well, begitulah sodara2 .. seperti yang laen, gw juga mengalami “keharuan dan kepuasan yang amat sangat” ! Bayangkan, gw udah upload lirik2 di PDA tapi ngga jadi gw liat karena ngga rela melepaskan pandangan dari panggung barang 1 detik pun! Berdiri, bernyanyi (tereak lebih tepat), dan mengepalkan tangan selama kurang lebih 3 jam. Itu pun masih kurang rasanya, andai mereka maen 1 malam lagi rasanya masih worth it untuk nonton lagi. Gileee …..

Capek tapi puas … bener kata seorang rekan ,“tonight, we have raised the bar of our standards to watch the concert”.

Categories: resensi Tags:

Countdown to DT Concert, 27 January 2006 – a warming up

January 9, 2006 kembars Leave a comment

Sebagai pemanasan untuk persiapan nonton konser DT 27 Jan 2006 nanti, berikut adalah komentar gw untuk tiap2 albumnya … yg gw punya tentu aja. Urut dari album yang pertama sampai album yang paling akhir gw denger. Subjective … of-course ! Tapi Anda2 dilarang protes, silakan aja nulis sendiri kalau ngga setuju :-)

WHEN DREAM AND DAY UNITE

CD ini gw beli belakangan, pas ada kesempatan dinas di Kuala Lumpur tahun 2000. Saat itu, di Indo susah banget carinya. Gw beli karena harus punya aja, gara-gara pengen tau seperti apa vokalis Charlie Dominicci itu. Eh, ternyata seperti dengerin vokalis2 heavy metal yang melengking2 … hiiiiii. Lagu Unggulan: “Ytse Jams” dan “Killing Hands”

IMAGES AND WORDS

Ini album pertama DT yang gw denger. Masih bentuk kaset. Dapet minjem lagi dari temen (thanks untuk Dede, Iman, Hananto dan Agung). Bolak balik diputer, dibalikin terus pinjem lagi, hehe. Gila banget ni group, pikir gw waktu itu. Saat gw bosen dengan heavy metal, American Hard-Rock dan Glam-rock yang saat itu lagi tren, eh … ada juga band ‘gila’ yang menggabungkan progressive music ala Yes, heavy metal ala Iron Maiden, dengan vokalis yang punya warna suara seperti Geoff Tate (QR) dan Bruce Dickinson (Iron Maiden) pula! Full technique, ruwet, penuh sinkop, durasi lagu yang panjang2 dan ‘ketukan’ not yang ngga biasa … dan gitarisnya sangar abis. This is what I have been looking for …. ! Yang paling dulu ‘nyantol’ tentu aja “Another Day” yang super melodius dengan iringan saxophone dari Jay Beckenstein (Spyrogira), kemudian “Pull me under” baru diikuti lagu2 lain. Lagu unggulan: “Another Day”, “Metropolis pt.1″, “Surrounding” dan “Learning to Live”.

Belakangan, saat gw sempat jalan2 ke Singapore, gw beli CD Bootleg live version dari album ini. Kualitas recordingnya jelek banget, tapi lumayan bisa denger “Another Day” dibawain live.

AWAKE

Album kedua yang gw denger. Pertama kali di-copy-in sama teman satu kantor di KAP Supoyo (namanya Bayu) dalam format kaset. Kaget juga pas dengernya. Lha kok metal abis, serasa dengerin Metallica versi prog-nya. Full “ejeg-ejeg” …. :-) Sekali ’spin’ ngga langsung ‘nyantol’. Jadinya lama ditaruh aja di rak kaset. Baru beberapa bulan kemudian cobain denger lagi, eh … kok dapet. Lagu unggulan: “Erotomania”, “Lifting Shadows-off a Dream”, “Silent-Man”, dan “Space Dye-Vest”. Album terakhir Kevin Moore gabung dengan DT.

LIVE AT THE MARQUEE

Pas maen ke rumah temen (Erry Susetyo di Krg. Wismo, Sby) dikasih tau kalo ada yang punya versi live DT. Wuih … Langsung gw minta dicopy-in. Format kaset. Belakangan ternyata ini adalah Live at The Marquee. Kualitas rekamannya OK, mostly mainin lagu2 di “Images and Words” dan sedikit “When Dream and Day Unite”. Sering banget gw dengerin … one of their best performance, sayang, no “Another Day”.

A CHANGE OF SEASONS

Kaset ketiga yang gw beli. Berisikan satu epic “A Change of Seasons” di side A dan live Cover version di side B. ACos adalah lagu terpanjang dari DT pada saat itu (sekitar hampir 20 menit), terdiri atas beberapa bagian. Gw paling suka intronya. Belakangan gw baru tahu kalo lagu ini direkam saat recording “Images and Words”. Direlease atas banyaknya permintaan penggemar. Side B berisikan rekaman performance mereka membawakan lagu2 orang dengan style tetap DT. Gw paling suka “Archilles Last Stand”nya Led Zepplin dan “Perfect Stranger”nya Deep Purple.

FALLING INTO INFINITY

Entah karena pengaruh musik dari keyboardis baru mereka (Derek Sherinian) atau karena apa, musik mereka di album ini jadi terasa berbeda dengan album2 mereka terdahulu. Ngagetin juga … bagi sebagian orang mungkin terasa kurang ‘nge-prog’ ! Buat gw sih “Trial of Tears” dan “Hells Kitchen” tetap kupingable. Ada dua track yang tergolong mellow di album ini yaitu “Hollow Years” dan “Anna Lee” yang potensial untuk menjadi hits MTV (hehe). But still, definitely bukan album terbaik mereka, IMHO…

ONCE IN A LIVE TIME

Rekaman Live dan double CD (Mahal bo’). Mostly direkam pas live show mereka di Europe. Ngga terlalu bagus kualitas soundnya dan vokal Labrie ‘dicerca’ abis di record ini. CD yang paling jarang gw dengerin. Masih lebih menarik nonton versi DVD “Five Years in a Live Time” utamanya saat jam session bareng vokalisnya Napalm Death, Marillion dan Steve Howe dari Yes.

SCENES FROM A MEMORY – METROPOLIS PART TWO

This record rules! DT with a concept album … who ever think of that. T O P abis! Memperkenalkan keyboardis baru mereka Jordan Rudess -pernah maen bareng Petrucci dan Portnoy di Liquid Tension Experiment project- yang IMHO merupakan ‘the missing piece’ menjadikan album ini menjadi sangat layak koleksi. Seolah kita dibawa nonton film, diayun2 dengan irama yang mellow, kenceng, amat kenceng, pelan, terus naik, slow lagi, dan seterusnya. Istri gw aja suka ama beberapa lagu di album ini. Gw juga berhasil memperkenalkan DT pada rekan2 gw di EY (Wiwin dan Yanti) berkat album ini. Lagu unggulan gw: Regressions, Home, Spirit Carries On, dan Finally Free. Eh, hampir semua lagu enak dink!

Gw juga dapet copy-an Live Scenes From New York dalam format mp3 (thanks to Bro Andrew Linggar). Cover CD ini sempat ditarik dari peredaran karena ada gambar WTC towernya.

Live DVD-nya juga TOP abis. Bagian I merupakan full version dari CD-nya, dan bagian II merupakan versi live dari “A Change of Seasons”, “Erotomania”, dan “Learning to Live”.


SIX DEGREES OF INNER TURBULENCE

Gw paling benci ama double CD … bikin bangrut :-( Belinya bela2in order ama Music + di Sarinah. Begitu dapet, ritual buka plastik segel, spin CD 1 … lha kok ngga ‘nyantol’ ya? Rasanya musiknya rada2 berbau rock alternatif ala limp bizkits, hehe. Tapi “Misunderstood” dan “Dissappear” langsung bisa diterima. Pas spin CD 2, dibuka ama “Overture” … wuih, ini dia musiknya DT! Angkat topi buat Jordan Rudess yang berhasil memberi nada2 unik semi orkestra di musik DT. Lagu unggulan: “Overture”, “Dissapear” dan “Goodnight Kiss” … ih, lagu ini lirik dan solo gitarnya bikin mrebes mili dan merinding. Kisah ibu yang terpisahkan dengan anaknya karena gila, hiks.

TRAIN OF THOUGHTS

Pas masa tunggu pembuatan ToT ini, sempat denger berita kalau DT maenin lagu2 Iron Maiden dan Metallica ‘Master of Puppets”. Perasaan gw ngga enak nih … heheh (ikutan Tora Sudiro). Ternyata beneran! Album ToT ini metal abis. To be frank, gw gak terlalu “tune-in” ama album ini. Bau Metallica-nya kentel banget. Dengerin intro “Endless Sacrifice” jadi ingat “Sanatorium (Welcome Home)” … wah, mereka bener2 inspired nih… Tapi, “Stream of Consciousness” (bener ngga ya nulisnya?) enak banget. Lagu unggulan: As I Am, Endless Sacrifice, Stream of Consciousness.

DVD Live in Budokan dirilis, dan of-course gw beli bajakannya :-) Mostly membawakan lagu2 dari ToT dan 6DoIT. Tapi tampang Labrie agak aneh di video ini … kurus atau sakit? Instrumedley-nya gila abis … dari “Regression” sampai “Paradigm Shift” dibawain. Seru juga lihat si Jordan Rudess bisa menghasilkan musik serame itu hanya dari 1 set keyboard Kurzweill-nya :-)

OCTAVARIUM

Lagu pertama yang ‘nyantol’ adalah “The Answer Lies Within” yang mellow. Disusul oleh “Octavarium” yang intronya Pink Floyd banget. Secara overall, musiknya mirip2, heheh. Oya, pas “I Walk Beside You” cengkok si Labrie mirip banget ama Bono U2. Lagu unggulan: Octavarium, Sacrified Sons, The Answer Lies Within, Never Enough.

Categories: iseng, opini, resensi Tags:

Batal Lagi .. Batal Lagi !

December 6, 2005 kembars Leave a comment

Finally, DT cancelled their Jakarta tour date on January 29, 2006 !

Bener2 kejadian dah … ini yang kedua kalinya mereka batalin tour di Indonesia. Again, due to travel warnings !

Sedikit kecewa – karena tadinya emang ngga terlalu berharap kejadian, tapi good side nya bisa pakai uangnya untuk yang lain … heheh. Bukan ‘die-hard’ fans ya?

Nguber ke Sing? Nggak lah …. sayang duitnya. Kalo gue masih bujang sih mungkin ceritanya lain :-)

“… I want you to know I’d die for that moment … “
Goodnight Kiss, Dream Theater, Six Degrees of Inner Turbulence

Categories: iseng Tags: