Lisensi Program Komputer

Tahukah Anda bahwa sejak Juli 2003 telah berlaku Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 mengenai Hak Cipta? Dalam UU (biasa disebut UU HAKI) itu disebutkan, program komputer merupakan ciptaan yang dilindungi. Pada Bab II UU ini disebutkan pula bahwa Pemegang Hak Cipta berhak untuk memberikan izin atau melarang penggunaan Ciptaannya untuk kepentingan komersial.

UU No 19 Tahun 2002 tentang HAKI sebenarnya merupakan amandemen dari beberapa undang-undang sebelumnya. Bermula dari UU No 7 Tahun 1994 tentang Hak Cipta yang diratifikasi menjadi UU No 18 Tahun 1997. Pada undang-undang HAKI Tahun 2002 ini, sekarang sudah memasukkan unsur pidana kepada pemakai barang ciptaan orang lain secara tidak sah. Adapun ancaman pidana bagi pihak yang dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu program komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Penerapan UU ini lebih ditujukan untuk menekan angka pembajakan di Indonesia yang menurut laporan dari BSA (Business Software Alliance – konsorsium yang didirikan oleh produsen-produsen software untuk menegakkan hak cipta) berada di urutan ketiga teratas.
Lantas, sebagai pengguna apa saja yang perlu diperhatikan agar kita tidak melakukan pelanggaran terhadap UU ini?

Menurut ensiklopedi Wikipedia (http://www.wikipedia.org), secara ringkas program komputer yang telah dihakciptakan dan memiliki lisensi dikelompokkan dalam dua model besar lisensi; yaitu open source/free software dan closed source/proprietary. Perlu juga dicatat di sini bahwa tidak semua program komputer memiliki lisensi ataupun hak cipta. Sebuah program komputer dapat saja dipublikasikan tanpa disertai lisensi (biasa disebut License-Free Software), meski dalam hal ini tetap saja berhak cipta sehingga pengedarannya juga harus mengikuti aturan yang berlaku. Atau sebuah program komputer dapat juga dipublikasikan begitu saja kepada umum (public domain) yang dalam hal ini tidak dihakciptakan dan tidak pula berlisensi.

Free Software License, Open Source License dan Freeware

Penggunaan terminologi free software license dan open source license sering dipergunakan secara bergantian, meskipun sebenarnya terdapat perbedaan pada maknanya. Menurut Richard Stallman (pelopor Free Software Movement): “Free software berbicara soal kebebasan (freedom) dan bukan soal harga (price)”. Atau dengan kata lain, free software berarti bahwa pengguna komputer memiliki kebebasan untuk penggunaan dan pengendalian atas program komputer tersebut. Menurutnya, sebuah program komputer disebut sebagai free software apabila program komputer tersebut secara bebas dapat dipergunakan, diperbanyak, dipelajari, dimodifikasi dan untuk kemudian diedarkan kembali. Free software tidak selalu berarti gratis !

Secara umum sebuah program komputer digolongkan sebagai “Open Source” apabila telah mendapatkan persetujuan dari sebuah organisasi yang bernama Open Source Initiative. Open Source merupakan praktek dalam produksi dan pengembangan aplikasi dimana akses ke kode program diberikan kepada pengguna. Mengacu kepada pengertian free software seperti tersebut di atas, hampir semua program Open Source adalah juga free software.

Sebutan “Freeware” (free beer software) diberikan kepada program komputer yang gratis, akan tetapi, tetap tidak bisa dimiliki oleh pengguna (proprietary), karena pengguna tidak dapat secara bebas mempergunakan, memperbanyak, mempelajari, mengubah dan mengedarkan kembali. Kode program dari sebuah Freeware mungkin saja tidak dipublikasikan dan modifikasi atas program komputer tersebut mungkin saja tidak diperbolehkan. Winamp dan Acrobat Reader adalah contoh-contoh program komputer yang terkategori sebagai freeware.

Closed Source/Proprietary dan Shareware

Pada model lisensi Closed Source/Proprietary terdapat pembatasan-pembatasan (oleh pemilik program komputer tersebut). Pembatasan untuk penggunaan, penggandaan ataupun pengubahan program tersebut dapat dilakukan melalui mekanisme teknis dan hukum. Secara teknis berarti pemilik program komputer hanya memberikan kode-kode biner (machine-readable binary) kepada pengguna, tapi tidak memberikan kode program yang bisa dibaca (human-readable). Sedangkan melalui mekanisme hukum dapat dilakukan melalui lisensi program, hak cipta dan paten.

Contoh yang paling tepat untuk menggambarkan model lisensi ini adalah produk-produk dari Microsoft (Sistem Operasi Windows, Microsoft Office, Visio, Microsoft Project, dll.)

Produk Microsoft mengenal 3 macam jenis lisensi:

  1. OEM (Original Equipment Manufacturer)
    Dijual secara paket (pre-installed) dengan perangkat keras saat pembelian desktop/notebook. Sebagai bukti kepemilikan lisensi, produk yang kita beli (baik desktop/notebook) akan dilengkapi dengan End User License Agreement (EULA), Certificate of Authenticity (COA) yang ditempelkan pada chasis produk ybs., CD media asli, manual (bila ada), serta invoice atau bukti pembelian.
  2. Retail atau Full Packaged Product (FPP)
    Dijual secara satuan pada toko-toko retail ataupun reseller Microsoft. Sebagai bukti kepemilikan, produk FPP yang dibeli akan dilengkapi dengan End User License Agreement (EULA), CD media asli, manual (bila ada), serta invoice atau bukti pembelian.
  3. Volume Licensing
    Pilihan ini biasanya ditawarkan kepada pengguna dalam satuan besar seperti perusahaan-perusahaan karena alasan ekonomis (dengan harga khusus) dan hanya dijual melalui Large Account Reseller (LAR). Pada Volume Licensing juga terdapat pilihan Open License (di atas 5 unit), Select License (di atas 250 unit) dan Enterprise Agreement (di atas 250 unit, standarisasi lisensi)

Istilah Shareware (demoware, trialware) adalah metode pemasaran program komputer dimana versi percobaan suatu program komputer dibagikan secara gratis (biasanya dapat di-download secara gratis dari internet ataupun berupa bonus CD dari majalah) kepada kepada pengguna. Pengguna dipersilakan untuk mencoba program komputer tersebut sebelum membeli. Biasanya waktu penggunaan program ini dibatasi (misalnya: 30 hari) dan setelah batas waktu penggunaan program tersebut lewat, program itu akan terkunci.

Sebagai Pengguna, Apa yang Perlu Kita Perhatikan?

Sebagaimana disebutkan di atas, saat ini UU HAKI hanya diberlakukan pada penggunaan program komputer untuk kepentingan komersial. Dengan kata lain, untuk sementara penggunaan program komputer untuk kepentingan pribadi dan pendidikan “masih diperbolehkan”. Namun demikian, untuk menghindari risiko terjadinya tuntutan hukum beberapa hal berikut patut diperhatikan saat akan melakukan pembelian komputer atau instalasi program komputer pada komputer Anda:

Tentukan tujuan penggunaan komputer Anda; apabila untuk penggunaan pribadi atau pendidikan, Anda masih bisa “berlega hati”. Paling tidak untuk saat ini. Apabila komputer tersebut Anda pergunakan untuk kepentingan komersial, Anda harus memastikan semua program yang terpasang pada komputer Anda telah berlisensi dan telah sesuai dengan End User License Agreement (EULA).

Pastikan Anda telah mendapatkan dokumen-dokumen resmi sebagai bukti pendukung kepemilikan lisensi pada saat melakukan pembelian desktop/notebook; Bila Anda membeli desktop/notebook sekaligus dengan aplikasi yang berbasis Windows didalamnya, selalu cek keberadaan stiker hologram Certificate of Authenticity (COA). Tapi ingat, COA itu hanya untuk Sistem Operasi. Anda masih perlu membeli lisensi untuk Microsoft Office dan aplikasi-aplikasi lainnya.

Selalu cek jenis lisensi sebelum melakukan instalasi sebuah program komputer pada desktop/notebook Anda; Perhatikan apakah program tersebut termasuk freeware, shareware, free software/open source ataukah proprietary.

Baca dokumentasi End User License Agreement (EULA) dari program komputer tersebut, perhatikan mana yang boleh dan mana yang tidak. Utamanya mengenai batasan penggunaan dan penggandaan. Usahakan untuk mematuhi ketentuan-ketentuan tersebut.

Advertisements

BUSWAY KORIDOR II dan III

Resmi sejak kemaren 15 Januari 2006, koridor II dan III Busway diresmikan oleh Bang Yos dan pagi ini gw nyampe kantor jam 8.45 (shuttle gw berangkat 6.20) !

Perasaan gw udah ngga enak sejak Busway ini diuji-cobakan 3 minggu terakhir. Traffic light perempatan Tomang jadinya lebih cepat sehingga ujung antrian di Tol Kebon Jeruk bisa lebih dari 6 kilo! Worst-nya lagi, “contra flow” (tambahan jalur ngelawan arus) yang biasa gw lewati yang biasanya langsung bablas masuk underpass Tomang jadi dibelokkan lagi ke jalur utama di ujung lampu merah Tomang. Alhasil, antrian juga terjadi di contra-flow …. hiks. Dulu, kalo bawa mobil sendiri, via contra flow, gw berangkat dr rumah jam 05.38 bisa nyampe kantor 6.40an. Tapi sekarang mustahil … !

Jadinya sekarang “underpass” jadi mubazir, kan? Padahal selama pembangunan yang lebih dari 1 tahun itu, pengguna tol kebun jeruk yang perjalanannya terganggu (baca: macet) terus diberi janji surga bahwa underpass ini adalah solusi. Janji itu sempat bener sih, sampai Busway ini beroperasi.

Jalan Raya Tomang yang hanya 3 jalur diambil 1 jalur tinggal 2 jalur. Wuih, tetangga gw bilang dari Tomang mau masuk tol kebun jeruk bisa antri sampai 1 jam! What a waste of fuel, kan?

Apanya ya yang salah? Busway-nya sendiri ngga salah, kan? Gimana caranya memindahkan orang2 yang pake mobil pribadi ke Busway? Khususnya yang commuter2 dari kota2 sekitar Jakarta ini. Feeder Busway sekelas shuttle bus komplek2 perumahan seperti Citra Raya, Kota Wisata, Lippo dll. harus diperbanyak. Kereta Api eksekutif harus ditambah. Tapi, kebijakan pengendalian mobil yang beredar harus juga dilakukan. Berani ngga kita ngurangi produksi mobil dan motor? Ide melarang kendaraan bermotor melalui jalan utama yang usianya lewat dari 5 tahun patut didukung.

Bang Yos bilang, 2010 Jakarta traffic stuck! Sepertinya iya, kalo kita ngga melakukan apa-apa. Mulai dari diri sendiri aja. Naek shuttle 3 kali seminggu. Itung2 ngurangi mobil beredar.

Ayo …

Countdown to DT Concert, 27 January 2006 – a warming up

Sebagai pemanasan untuk persiapan nonton konser DT 27 Jan 2006 nanti, berikut adalah komentar gw untuk tiap2 albumnya … yg gw punya tentu aja. Urut dari album yang pertama sampai album yang paling akhir gw denger. Subjective … of-course ! Tapi Anda2 dilarang protes, silakan aja nulis sendiri kalau ngga setuju 🙂

WHEN DREAM AND DAY UNITE

CD ini gw beli belakangan, pas ada kesempatan dinas di Kuala Lumpur tahun 2000. Saat itu, di Indo susah banget carinya. Gw beli karena harus punya aja, gara-gara pengen tau seperti apa vokalis Charlie Dominicci itu. Eh, ternyata seperti dengerin vokalis2 heavy metal yang melengking2 … hiiiiii. Lagu Unggulan: “Ytse Jams” dan “Killing Hands”

IMAGES AND WORDS

Ini album pertama DT yang gw denger. Masih bentuk kaset. Dapet minjem lagi dari temen (thanks untuk Dede, Iman, Hananto dan Agung). Bolak balik diputer, dibalikin terus pinjem lagi, hehe. Gila banget ni group, pikir gw waktu itu. Saat gw bosen dengan heavy metal, American Hard-Rock dan Glam-rock yang saat itu lagi tren, eh … ada juga band ‘gila’ yang menggabungkan progressive music ala Yes, heavy metal ala Iron Maiden, dengan vokalis yang punya warna suara seperti Geoff Tate (QR) dan Bruce Dickinson (Iron Maiden) pula! Full technique, ruwet, penuh sinkop, durasi lagu yang panjang2 dan ‘ketukan’ not yang ngga biasa … dan gitarisnya sangar abis. This is what I have been looking for …. ! Yang paling dulu ‘nyantol’ tentu aja “Another Day” yang super melodius dengan iringan saxophone dari Jay Beckenstein (Spyrogira), kemudian “Pull me under” baru diikuti lagu2 lain. Lagu unggulan: “Another Day”, “Metropolis pt.1”, “Surrounding” dan “Learning to Live”.

Belakangan, saat gw sempat jalan2 ke Singapore, gw beli CD Bootleg live version dari album ini. Kualitas recordingnya jelek banget, tapi lumayan bisa denger “Another Day” dibawain live.

AWAKE

Album kedua yang gw denger. Pertama kali di-copy-in sama teman satu kantor di KAP Supoyo (namanya Bayu) dalam format kaset. Kaget juga pas dengernya. Lha kok metal abis, serasa dengerin Metallica versi prog-nya. Full “ejeg-ejeg” …. 🙂 Sekali ‘spin’ ngga langsung ‘nyantol’. Jadinya lama ditaruh aja di rak kaset. Baru beberapa bulan kemudian cobain denger lagi, eh … kok dapet. Lagu unggulan: “Erotomania”, “Lifting Shadows-off a Dream”, “Silent-Man”, dan “Space Dye-Vest”. Album terakhir Kevin Moore gabung dengan DT.

LIVE AT THE MARQUEE

Pas maen ke rumah temen (Erry Susetyo di Krg. Wismo, Sby) dikasih tau kalo ada yang punya versi live DT. Wuih … Langsung gw minta dicopy-in. Format kaset. Belakangan ternyata ini adalah Live at The Marquee. Kualitas rekamannya OK, mostly mainin lagu2 di “Images and Words” dan sedikit “When Dream and Day Unite”. Sering banget gw dengerin … one of their best performance, sayang, no “Another Day”.

A CHANGE OF SEASONS

Kaset ketiga yang gw beli. Berisikan satu epic “A Change of Seasons” di side A dan live Cover version di side B. ACos adalah lagu terpanjang dari DT pada saat itu (sekitar hampir 20 menit), terdiri atas beberapa bagian. Gw paling suka intronya. Belakangan gw baru tahu kalo lagu ini direkam saat recording “Images and Words”. Direlease atas banyaknya permintaan penggemar. Side B berisikan rekaman performance mereka membawakan lagu2 orang dengan style tetap DT. Gw paling suka “Archilles Last Stand”nya Led Zepplin dan “Perfect Stranger”nya Deep Purple.

FALLING INTO INFINITY

Entah karena pengaruh musik dari keyboardis baru mereka (Derek Sherinian) atau karena apa, musik mereka di album ini jadi terasa berbeda dengan album2 mereka terdahulu. Ngagetin juga … bagi sebagian orang mungkin terasa kurang ‘nge-prog’ ! Buat gw sih “Trial of Tears” dan “Hells Kitchen” tetap kupingable. Ada dua track yang tergolong mellow di album ini yaitu “Hollow Years” dan “Anna Lee” yang potensial untuk menjadi hits MTV (hehe). But still, definitely bukan album terbaik mereka, IMHO…

ONCE IN A LIVE TIME

Rekaman Live dan double CD (Mahal bo’). Mostly direkam pas live show mereka di Europe. Ngga terlalu bagus kualitas soundnya dan vokal Labrie ‘dicerca’ abis di record ini. CD yang paling jarang gw dengerin. Masih lebih menarik nonton versi DVD “Five Years in a Live Time” utamanya saat jam session bareng vokalisnya Napalm Death, Marillion dan Steve Howe dari Yes.

SCENES FROM A MEMORY – METROPOLIS PART TWO

This record rules! DT with a concept album … who ever think of that. T O P abis! Memperkenalkan keyboardis baru mereka Jordan Rudess -pernah maen bareng Petrucci dan Portnoy di Liquid Tension Experiment project- yang IMHO merupakan ‘the missing piece’ menjadikan album ini menjadi sangat layak koleksi. Seolah kita dibawa nonton film, diayun2 dengan irama yang mellow, kenceng, amat kenceng, pelan, terus naik, slow lagi, dan seterusnya. Istri gw aja suka ama beberapa lagu di album ini. Gw juga berhasil memperkenalkan DT pada rekan2 gw di EY (Wiwin dan Yanti) berkat album ini. Lagu unggulan gw: Regressions, Home, Spirit Carries On, dan Finally Free. Eh, hampir semua lagu enak dink!

Gw juga dapet copy-an Live Scenes From New York dalam format mp3 (thanks to Bro Andrew Linggar). Cover CD ini sempat ditarik dari peredaran karena ada gambar WTC towernya.

Live DVD-nya juga TOP abis. Bagian I merupakan full version dari CD-nya, dan bagian II merupakan versi live dari “A Change of Seasons”, “Erotomania”, dan “Learning to Live”.


SIX DEGREES OF INNER TURBULENCE

Gw paling benci ama double CD … bikin bangrut 😦 Belinya bela2in order ama Music + di Sarinah. Begitu dapet, ritual buka plastik segel, spin CD 1 … lha kok ngga ‘nyantol’ ya? Rasanya musiknya rada2 berbau rock alternatif ala limp bizkits, hehe. Tapi “Misunderstood” dan “Dissappear” langsung bisa diterima. Pas spin CD 2, dibuka ama “Overture” … wuih, ini dia musiknya DT! Angkat topi buat Jordan Rudess yang berhasil memberi nada2 unik semi orkestra di musik DT. Lagu unggulan: “Overture”, “Dissapear” dan “Goodnight Kiss” … ih, lagu ini lirik dan solo gitarnya bikin mrebes mili dan merinding. Kisah ibu yang terpisahkan dengan anaknya karena gila, hiks.

TRAIN OF THOUGHTS

Pas masa tunggu pembuatan ToT ini, sempat denger berita kalau DT maenin lagu2 Iron Maiden dan Metallica ‘Master of Puppets”. Perasaan gw ngga enak nih … heheh (ikutan Tora Sudiro). Ternyata beneran! Album ToT ini metal abis. To be frank, gw gak terlalu “tune-in” ama album ini. Bau Metallica-nya kentel banget. Dengerin intro “Endless Sacrifice” jadi ingat “Sanatorium (Welcome Home)” … wah, mereka bener2 inspired nih… Tapi, “Stream of Consciousness” (bener ngga ya nulisnya?) enak banget. Lagu unggulan: As I Am, Endless Sacrifice, Stream of Consciousness.

DVD Live in Budokan dirilis, dan of-course gw beli bajakannya 🙂 Mostly membawakan lagu2 dari ToT dan 6DoIT. Tapi tampang Labrie agak aneh di video ini … kurus atau sakit? Instrumedley-nya gila abis … dari “Regression” sampai “Paradigm Shift” dibawain. Seru juga lihat si Jordan Rudess bisa menghasilkan musik serame itu hanya dari 1 set keyboard Kurzweill-nya 🙂

OCTAVARIUM

Lagu pertama yang ‘nyantol’ adalah “The Answer Lies Within” yang mellow. Disusul oleh “Octavarium” yang intronya Pink Floyd banget. Secara overall, musiknya mirip2, heheh. Oya, pas “I Walk Beside You” cengkok si Labrie mirip banget ama Bono U2. Lagu unggulan: Octavarium, Sacrified Sons, The Answer Lies Within, Never Enough.

BLT !

Seminggu ini lagi ramai-ramainya pembagian BLT yang kedua. Di semua TV dipertontonkan antrian panjang dan “kericuhan kecil” yang terjadi saat pembagian. Diberitakanbahkan ada kepala desa yang nyaris bunuh diri akibat “tidak kuat” menahan tekanan dari atas-bawah-samping soal siapa2 yang dikategorikan “berhak” menerima rejeki nomplok ini …. hehehe

Dulu saat gw ikutan kuliah persiapan “Kuliah Kerja Nyata” selalu ditekankan soal pemberian “pancing” bukannya “ikan” kepada warga desa dengan segala macam reasoningnya. Setelah sampai di lapangan, ternyata cara untuk mendapatkan simpati yang paling efektif adalah memang pemberian “ikan”. Ini gw alami sendiri …. setelah tim kita ngalah memberikan “ikan” terlebih dulu, barulah warga desa bersimpati dan mau mendengarkan “pancing” yang kita berikan. Nah …. !

Pembagian BLT ini mungkin cara paling efektif untuk meredam gejolak yang mungkin terjadi akibat kenaikan gila2an BBM yang mengakibatkan inflasi (see my other post re: BBM) dan untuk mendapatkan simpati bagi pemerintah. Ngga peduli dikritik kiri dan kanan … “khan gw udah kasih kompensasinya ke kalian … ” heheh. Timbul masalah baru yang ngga kepikir saat keputusan itu dibuat seperti yang gw sebut di atas. Yang jadi korban akhirnya petugas pendata, kepala desa, lurah, camat, RT, RW de el el.

Gw lebih prefer dana tersebut dialokasikan ke sekolah2. Supaya pendidikan jadi murah dan terjangkau oleh masyarakat banyak. Konsep sekolah negeri dan swasta benar2 dioptimalkan. Jumlah sekolah negeri (bersubsidi) diperbanyak dengan biaya terjangkau (lebih bagus gratis …). Tapi jangan lupa standar pendidikan agar mutu lulusannya ngga memble. Yang punya uang lebih, ngga puas dengan sekolah negeri silakan sekolah ke sekolahan yang lebih mahal (swasta).

Ah, I wished pendidikan di negara kita murah dan terjangkau bagi semua orang. I believe itu basic dari semua hal yang ada. Ketidakberesan kita mengelola pendidikan di negeri ini melahirkan orang-orang yang tidak “kebagian” pendidikan akan semakin tersisih dan berpotensi menjadi sumber masalah/penyakit sosial (pengangguran, kejahatan, kemiskinan, pelacuran, dst.)