When My Dream and DT Unite

Sore itu, duduk dan melihat sendiri panggung yang akan dipakai untuk konser DT malam itu adalah seperti berada dalam mimpi. Tertutup oleh back-drop hitam, 4 speaker set di kiri dan kanan stage, indoor stadium Singapore yang megah … ah, gw ngga pernah membayangkan bisa berada di sini.

Perjuangan menuju ke hari itu adalah sungguh2 perjalanan panjang. Mulai dari iming2 promotor bahwa DT akan mampir di Jakarta, pembatalan, memikirkan kemungkinan pergi ke Singapore, itung2 ongkos -compare2, nego ama istri (thanks Hon, you’re the best!), hunting tiket (konser dan pesawat – thanks Bro Yoga and Didin, nice to do business with you guys!), persiapan konser -ngapalin lagu (salute untuk mas Gatot & Bro David Dewata for organize us), ambil kaos ‘When Dream Theater and Indonesia Unite” (proficiat untuk Bro Andre Solucite), dan perjalanan Jakarta-Batam-Singapore Harbour Front bareng M-Claro Guys(meet Mr. Goh -you’re the man!) – Indoor Stadium adalah momerable moment yang gak bakal gw lupa sampai tua nanti.

Nyampe di Stadium sekitar 18.30 langsung nyerbu loket SISTIC untuk exchange tiket. Abis itu nyerbu counter merchandise yang ada di bawah, tapi buset … penuh banget. Ada kaos (black & white design tee), poster, and CDs official bootleg. Black tee langsung sold-out! Fortunately, karena gw sedang dalam mode ‘back-packers’ dan ngga bawa cash banyak, gw passed aja deh …. 😦

Tadinya gw pengen potret2 seperti yang pernah gw lakukan di Java Jazz, tapi ngga tau deh … rasanya being here is an ultimate dream already, udah ngga punya keinginan laen. Gw ngga terlalu nafsu ‘ngelolosin’ digicam gw ke dalem. Gw pegang aja dah, lolos syukur… harus titip yo wis-lah. Sementara temen2 gw laennya pada pake trik2 khusus yang beberapa berhasil lolos ada juga yang ketangkep. Alhasil, security langsung memerintahkan gw untuk menitipkan digicam gw ke loker. Yo wis-lah ….

Di dalem, terkagum2 ama design di dalam stadium “wah, indo ketinggalan berapa tahun ya?”. Meski duduk agak jauh (T04 berada di tribun belakang, persis depan panggung), tapi karena persis berhadapan di depan panggung bisa dapet full view dari panggung dan nangkep sound yang lumayan. Di sebelah kiri gw Bro Didin & Yoga. Ngga lama, kursi sebelah kanan gw terisi dan ternyata 2 orang indo dari Tebet. Yang satu udah 2x nonton show DT pas di Paris, wuih ! Depan gw, satu deret bule2 muda (tampang high school) ditemani seorang yang berumur -mungkin salah seorang orang tua dari mereka.

Lihat sekeliling, ngga terlalu penuh nih stadium. Konon kapasitasnya 8000 dan malam ini hanya terisi 4000, sayang ya … coba di Jakarta. Eh, banyak juga “mahluk lucu” yang nonton lho … Gw ngga yakin, apa mereka bener2 tahu apa yang mereka bakal tonton malam ini … ‘snob’ kali ya 🙂

Sambil nunggu, temen baru gw -yang duduk di sebelah- bilang setting di Sing ini lebih “minimalis” kalo dibanding pas di Paris dulu. Emang sih, gw agak kaget kok panggungnya “termasuk” minimalis gini? Entar gimana ya? Gak lama, tirai penutup warna item turun … waaaa, pada tereak orang2 dikirain udah mau maen. Padahal crew DT lagi beres2. Tapi beneran lho … minimalis bgt! Ssatu drum set Portnoy di tengah2 (double bass), 1 buah keyboards dan 1 lagi ngga tau apaan di kiri panggung milik Rudess, 2 buah stand microphone, effect punya Myung di kiri dan Petrucci di kanan, Speakers set di kiri dan kanan panggung, sisanya backdrop hitam. Gitu aja ….

Begitu sosok yang seperti Petrucci muncul di stage (meski belum maen, sepertinya lagi mastiin soundnya OK) penonton udah tereak2 ngga keruan. Pas jam 9, lampu dimatiin … dan juedderrr !!!!! The Root of All Evil played. Backdrop gambar album Octavarium muncul, dan penonton VIP yang bayar Sin $150 pada semburat ke depan panggung …. hehehe.

pic: courtessy Bro David Dewata

======================================
Liputan konser saya cuplik aja dari tulisan Bro Sigit dr milis M-Claro (tulisan ini udah bisa merepresentasikan keadaaan di sono)

Urutan setlist lagu:

  1. THE ROOT OF ALL EVIL
  2. PANIC ATTACK
  3. A FORTUNE IN LIES
  4. UNDER A GLASS MOON
  5. LIE
  6. PERUVIAN SKIES dengan bumbu sedap Pink Floyd dan Metallica
  7. STRANGE DEJA VU
  8. THROUGH MY WORDS
  9. FATAL TRAGEDY
  10. 6D0IT PART 6: SOLITARY SHELL
  11. 6DOIT PART 7: ABOUT TO CRASH
  12. 6DOIT PART 8: LOSING TIME/GRAND FINALE
    —15 min intermission—
  13. AS I AM
  14. ENDLESS SACRIFICE
  15. I WALK BESIDE YOU
  16. SACRIFICED SONS
  17. OCTAVARIUM dengan bumbu variasi keys Jordan
    —encore—
  18. SPIRIT CARRIES ON (duh, stadium serasa mau runtuh)
  19. PULL ME UNDER segue into METROPOLIS PT.1

Performance Notes:
Mau bilang apa lagi ya? Bapak-ibu-mas-mbak-oom-tante … sumpah deh,ini adalah band performance paling tight, paling perfect yang pernahsaya lihat selama ini. Edan. Bener-bener gila. Dan mereka juga lebih aktraktif ketimbang DVD Live At Budokan lho. Petrucci banyak gerak. Myung malah sampe nyebrang sayap. Berpose “Soneta” – Myung & Petrucci. LaBrie bantuin Jordan mencet keyboard. “The Camel” Portnoy, buset ludahnya muncrat bisa jauh bener, hehehehe. Solid. Semua ultra solid. Padahal gangguan teknis lumayan banyak juga. Sound tidak rata terutama di awal, yah okelah teknisinya mungkin masih puyeng kemaren abis melayani Backstreet Boys. In-ear monitor LaBrie sempat mati sehingga sangat mengganggu segmen “Intervals” dari lagu OCTAVARIUM. UntungPortnoy cukup kalem menghandle situasi ini.

Gear Notes:
Myung kelihatannya
stabil dengan Yamaha signature-nya. Kali ini ndak bawa Chapman Stick. Portnoy tampil minimalis setelah tampil ultra-over-the-top di era Train Of Thought dengan Siamese Monster-nya. Set kali ini lebih mirip era Images. Relatif simple. Petrucci setia dengan Music Man signature-nya juga. Double-neck 6-12ndak keluar. Untuk beberapa lagu menggunakan 7 string. Ada juga modelhybrid elektrik akustik dengan 3 tone control dan 2 switch. Yang menarik (barangkali ada yang bisa kasih pencerahan), ada satu gitar yang rasanya kok necknya panjang banget, dan posisi “neck” pickupnya aneh, agak di tengah. Sementara bridge-nya jauh banget di ujung,nyaris di pinggir bodi. Baritone guitar-kah ini??? Oh ya nanya lagi buat gitaris. Kayanya ndak ada model yang pake locking nut. How the hell did he stay in tune?? Apa lagi whammy bar diperkosa abis sepertidi solonya SACRIFICED SONS, I repeat, HOW THE HELL DID HE STAY IN TUNE??? Rudess, nah ini paling banyak mainan barunya. Sebagai konsol utamatetap Kurzweil K2600 yang di atasnya dipasangi Music Pad Pro,pedal-pedal di bawah. Rudess juga main lap steel, Fender FS52. YangPALING ASIK adalah mainan tergres yang baru dipamerkan di albumOctavarium, yaitu “keyboard masa depan”, Continuum Fingerboard bikinanHaken Audio. Wuahhhhh keren broooo …. nikmati dia in action nyarisdi keseluruhan lagu Octavarium!!!

pic: courtessy Bro David Dewata

====================================
Well, begitulah sodara2 .. seperti yang laen, gw juga mengalami “keharuan dan kepuasan yang amat sangat” ! Bayangkan, gw udah upload lirik2 di PDA tapi ngga jadi gw liat karena ngga rela melepaskan pandangan dari panggung barang 1 detik pun! Berdiri, bernyanyi (tereak lebih tepat), dan mengepalkan tangan selama kurang lebih 3 jam. Itu pun masih kurang rasanya, andai mereka maen 1 malam lagi rasanya masih worth it untuk nonton lagi. Gileee …..

Capek tapi puas … bener kata seorang rekan ,“tonight, we have raised the bar of our standards to watch the concert”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s