PENDIDIKAN INDONESIA, MAU KEMANA?

Nonton berita di TV dan baca media massa dua hari ini bener2 prihatin. Tingkat kelulusan peserta UAN memprihatinkan,Juara kelas yang sudah diterima via PMDK di PT bergensi ikut ngga lulus. Di Kalimantan, malah ada yang bunuh diri karena ngga kuat nanggung beban mental.

Gara-garanya sistem penilaian kelulusan diubah. Murni dari hasil UAN, rata-rata total nilai dari yang diujikan harus lebih dari 4.5 -kalau ngga salah. Jadi, meski dari kelas 1 sampai kelas 3 dapat rangking 1, tapi kalau pas malam ujian kebanyakan gaul atau harus nunggu keluarga sakit atau rumah lampu mati … dan besoknya ujian gak konsen dan akibatnya ‘fail’ ya … apa boleh buat, ngulang Jack!!!

Apa yang Salah ya?
Mungkin sebagian orang menjawabnya: semuanya SALAH!!! 🙂

Saya berusaha memahami logika berpikir si pembuat keputusan yang maha penting ini. Mungkin pemicunya. kekuatiran terhadap standarisasi mutu pendidikan yang tidak merata, performance indikator sekolah dimana tingkat kelulusan dijadikan barometer sebuah sekolah dikatakan ok atau enggak -sehingga sekolah mengorbankan kualitas lulusannya demi mencapai itu. Di kampus juga ada. Oh, come On, masih ingat istilah “penggelontoran” ??? Itu … angkatan-angkatan tua yang ngga lulus2 di’paksa’ ambil skripsi dan maju ujian, terus standar kelulusan diturunkan. Asal bisa jawab dan ngga malu2in, lulus!!! Sounds familiar ya??? 🙂

Jujur, dulu, pas saya SMA saya juga ngga terlalu peduli sama ujian akhir. Asumsi pasti luluslah … fokus sama UMPTN aja.

Mungkin si pembuat keputusan berpikir dengan adanya standar soal nasional, maka kualitas pendidikan bisa paling tidak diseragamkan. Mirip2 sertifikasi gitu. Gak lulus ya ngulang. Tahun pertama pasti banyak korban, tapi setelah berjalan bertahun-tahun, setiap siswa akan mempersiapkan sebaik-baiknya menghadapi ujian. Sehingga tingkat kelulusan jadi lebih baik dan otomatis kualitas pendidikan pun terjaga. Everybody is happy! Itu benar,.. kalau bukan anak Anda atau saudara Anda yang jadi korban 🙂

Gak tau ya, saya sih ngga pernah ngicipi sekolah di luar. jadi saya berkomentar seperti ini dengan “mode-kemeruh” aja 🙂 Tapi menurut saya ada beberapa hal yang perlu dilihat sebagai faktor kegagalan konsep ini -paling tidak tahun ini:

1. Kurikulum ngga ikut diubah.
Lha, kalau memang yang diujikan nasional (berarti standar nasional) hanya Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika harusnya sejak awal di pendidikan dasar ya hanya itu yang difokuskan. Ngga usah repot2 ngulang pelajaran PMP, Agama, Bahasa Daerah, dll. yang ngabisin banyak waktu ! Terlalu banyak yang harus dipelajari, mana bisa fokus sama kompetensi!

2. Kurang banyak guru berkualitas.
Waktu saya dengar sistem pendidikan berbasis kompetensi akan diterapkan, sejak awal saya pesimis. Apa siap tuh guru-gurunya? Mudah-mudahan saya salah, tapi sebagian (bukan semua lho) orang menjatuhkan pilihan menjadi guru setelah tidak ada (baca=tidak bisa) pilihan lain.

3. Gaji guru terlalu kecil, padahal biaya pendidikan mahal.
Terkait dengan nomor 2, sedikit orang pinter yang mau jadi guru ya karena profesinya ngga menjanjikan. Isinya full pengabdian. Mana bisa makan? Furthermore, sedikit guru pinter yang mau ngajar ke luar jawa. Akibatnya, gap pendidikan makin jauh.

4. Pengawasan sekolah kurang banget.
Mendapatkan pendidikan murah adalah hak warga negara, tanpa terkecuali. Sehingga memang kesempatan untuk menyelenggarakan pendidikan non subsidi (baca: swasta) harus dibuka lebar, tapi harus diawasi. Rahasia umum, sekolah2 swasta hanya jadi second job dari guru-guru negeri. Akibatnya, kualitasnya jadi macem2. Pengawasan kualitasnya kurang. Harusnya ada dewan pengawas sekolah yang setiap hari turun ke lapangan. Sidak aja … kalau sekolah ngga siap, tutup aja!

Kesimpulannya:
Masih jauh, Pak Dibyo! Kalau boleh usul, diubahnya dari ujung, jangan cuma akhirnya aja. Ya gini … kasian adik2 yang jadi korban. Mulai dari playgroup dulu 🙂

Advertisements

KENAPA TAKUT PAKAI LINUX?

Di Indonesia, belakangan ini linux sudah semakin sering ‘terlihat’ sebagai operating system yang mulai banyak dipakai dibanding dengan -say- 2 tahun lalu. Pemicunya apa lagi kalau bukan implementasi UU HAKI … ! Ya, UU ini punya pisau bermata dua bagi vendor-vendor software proprietary seperti Microsoft. Di samping bisa secara drastis meningkatkan US $ masuk ke kantong mereka, tapi di saat bersamaan, dalam jangka panjang -IMHO- bisa mengurangi pasarnya. Coba lihat saja, di carefour misalnya, sekarang notebook ditawarkan dengan 2 pilihan operating systems: Windows XP dan Linux. Beda harganya bisa sampai Rp 1,5 juta ! Tinggal sekarang apakah kita sebagai konsumen dan pengguna bersedia mengkompensasi uang sejumlah segitu dengan meng-adjust kebiasaan kita “dimanja” oleh what so called “ke-user friendly-an” software-software keluaran Microsoft!

Pilih-pilih Distro

Banyak distro (baca: distribusi) Linux yang ada di pasaran, seperti Red Hat, Suse, Mandrake, Knoppix, Mephis, dll. Mana yang lebih unggul menjadi perdebatan klasik yang tidak akan pernah berhenti di milis2 komunitas Linux. Gw sendiri mencoba untuk instalasi distro Red Hat 9 dan Mandrake 10.0 untuk server experiment di kantor dan akhirnya memutuskan untuk memakai Mandrake 10 (untuk server experiment di kantor sekaligus di pc gw di rumah), dengan alasan paling mudah (bagi gw yang 100% user Microsoft) dari segi instalasi, kemudahan pendeteksian hardware, instalasi new software dan user interface yang keren! Saat menggunakan Red Hat 9, gw harus spent 2 hari hanya untuk mendeteksi usb flash disk gw 😦 (Dasar Windows user! ), tapi dengan Mandrake 10 begitu “colok” usb tersebut langsung ter-mount dan nongol di layar !! Hebat ngga ??? Begitu juga dengan instalasi software baru. Mandrake sudah menyediakan menu khusus (wizard) untuk instalasi software yang berbasis .rpm. Mudah sekali … Meski apabila kita ingin melakukan instalasi via console dengan command2 unix seperti “./configure”, dll masih dimungkinkan.

Belakangan gw coba2 distro lain melalui live CD mereka seperti Mephis dan Knoppix. Kesan umumnya sama: instalasi relatif mudah, hardware langsung terdeteksi dan user interface (baik KDE maupun GNOME)relatif mudah dipergunakan oleh windows user. Sebagian malah sudah juga menyediakan Open Office untuk alternatif pengganti Microsoft Office.

I think this is what linux community should do for a Windows user like me !

Beberapa rekan merekomendasikan untuk mencoba versi Fedora Core ataupun Mandriva yang sudah makin user friendly -katanya. Ntar lah …. One thing at a time 🙂

Mandrake 10: NEXT EXPLORATION

CD Mandrake 10 (6 CD) sudah menyediakan paket-paket yang diperlukan untuk menjalankan fungsi-fungsi yang diperlukan baik oleh server ataupun sekedar workstation. Di server experiment, saat ini gw pasang web server (lamp -linux, apache, mysql dan php) dan samba server. Both works fine !!!

Web Server

Untuk melengkapi intranet ‘lamp’ gw, Mambo CMS 4.5.2 (lagi-lagi Open Source) gw pakai sebagai Content Management Systems. Gw beli buku yang kalau ngga salah judulnya “Membangun Website dengan CMS Mambo” di Gramedia seharga kurang dari Rp 50rb kumplit dengan CD source-nya. Sayangnya, source dan instruksi dalam buku mencontohkan instalasi di platform Windows.Dengan mudah, gw bisa langsung sukses menginstalasi Mambo CMS gw ke notebook gw yang berbasis Windows XP. Relatif mudah! Tapi dengan Mandrake, wuih, belum tentu!!! Jadinya gw repot sedikit, googling dan masuk ke website Mambo Portal dan cari instruksi instalasi untuk linux!

Problem yang ditemukan selama instalasi cukup ‘menantang’. Karena saat instalasi Mandrake, gw udah sekalian install set Apache, php dan mysql jadinya untuk bagian instalasi lamp sudah bisa dilewati. Problem pertama: Mambo Installation, setelah file permission salah satu directory harus di’utak-atik’ dulu (via console: ‘chmod’) baru Mambo gw sukses terinstall. Gw terbantu banget sama portal mambo user forum. Problem kedua: Web Server gw ngga bisa diakses sama orang luar. “You don’t have permission to access this folder/Error 405” katanya! Setelah lama kutak-kutik file “httpd.conf”, dan “.htaccess” akhirnya problem gw solve juga!!! Sekali lagi portal mambo user forum amat membantu.

Samba

Agar server gw bisa jadi file server, gw perlu samba service jalan dulu. Instalasi servicenya bisa dilakukan via Mandrake Control Center dan relatif mudah. Yang ruwet justru saat setting configurasinya. Setelah 3 hari gagal diakses dari jaringan kantor yang berbasis Windows 2000, setelah lama meng’utak-atik’ file “smb.conf” dan setting Samba Server via webmin, akhirnya server gw bisa diakses oleh komputer lain yang berbasis windows 2000 dan XP via jaringan kantor. Fiuhhh !

Semua memang masalah kebiasaan.

Sampai sekarang server gw masih ok. Sekali ada problem “crash” karena memang disk-nya kepenuhan (maklum emang gw pakai pc bekas) dan gw perlu bantuan rekan gw yang memang System Administrator Unix di kantor untuk melakukan “maintenance via console” yakni menghapus file-file tidak perlu dari beberapa folder. Tapi secara overall, it is do-able and works fine!

Bagi yang punya basis Unix knowledge yang kuat dan terbiasa menjalankan command via console rasanya ngga bakal mengalami kesulitan yang berarti. Tapi, bagi Unix dummies kaya gw … memang perlu ‘penyesuaian’ karena meski GUI Linux saat ini sudah relatif keren dan friendly, dalam beberapa kasus maintenance seperti contoh di atas, comment via console ngga bisa dihindari. Tapi, gw yakin ke depan tampilan dan ke-user friendly-an ini bakal teratasi dan makin banyak distro yang menyediakan kemudahan bagi usernya.

Di sisi lain, bagi administrator ataupun security practicioner, banyak aplikasi open source (yang juga free) untuk monitoring dan auditing yang tersedia yang bisa dipakai yang jalan di Unix base. Beberapa distro seperti Auditor, PHLAK dan Knoppix STD menyediakan set yang lengkap untuk kebutuhan monitoring, auditing dan hacking 🙂

Kesimpulannya, masa depan linux di Indonesia amat potential khususnya bagi mereka yang cost concern!