Prihatin Perilaku

Lagi prihatin liat perilaku orang berebut “kursi”, perhatian dan proyek.

Sruduk sana-sini, prosedur dibilang birokrasi.

Pada ngaku kenalan si A, si B, sambil bawa proposal.

“Kita Satu Grup, kan?”

Hehe

Pantes bangsa kita tambah mundur ya?

Advertisements

Oleh-Oleh dari IGOS Summit 2 tahun 2008

oleh-oleh

Ini dia oleh-olehnya!

Tinggal ngisi buku tamu di booth Kementerian Kominfo, dapet setumpuk CD distro antara lain:

– Ubuntu, Kubuntu, Edubuntu 8.04 Hardy Heron

– Ubuntu Muslim Edition 7.10

– Open Office 2.4 for Windows, Linux and Solaris

– IGOS Nusantara

– BlankOn 3.0 Lontara

– PCLinuxOS 2008

Hmmm, lumayan untuk bahan sosialisasi di kantor.

Thanks !

Demo, Murni Aspirasi atau Gaya Hidup?

Seminggu ini media nasional rame memberitakan aksi mahasiswa yang katanya sedang memperjuangkan rakyat karena kenaikan harga BBM. Di Unas, bentrok Polisi dan mahasiswa tidak bisa dihindari. Di UKI, Cawang, demo mahasiswa rusuh sampai menimbulkan ‘chaos’ lalu lintas. Di Mustopo, mahasiswa memukuli seorang polisi yang hampir masuk masa ‘MPP’. Kalau sedang begini, memang yang kasian ya polisi … mereka yang selalu berhadapan langsung dengan massa.

Kemarin pagi, sebuah radio di Jakarta membahas masalah ini. Menarik … karena semua sms yang masuk dan dibacakan isinya mengecam aksi-aksi mahasiswa yang mengatas namakan rakyat tapi malah bikin kacau dan ruwet Jakarta. Ujung-ujungnya malah menghubungkan antara aksi anarkis mahasiswa dengan “kualitas” universitasnya. “Siapa dulu yang sekolah di situ?” atau “Yang begitu ngga bakal kejadian di sekolah yang bener.” “Yang masuk situ kan dulu emang ketika SMU hobinya tawuran”. “Siapa sih yang mereka wakili?”

Ketika konfrensi pers bentrok Unas, polisi membeberkan barang bukti antara lain berupa bom molotov dan banyak (Masya Allah) botol minuman keras.  Memang keberadaan barang-barang ini belum dikonfirmasi oleh pihak kampus. Dulu juga pernah saya baca, ketika demo besar saat mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR tahun ’98, banyak ditemukan (maaf) kondom bekas tercecer di seputaran gedung. Bener atau tidak? Wallahualam.

Yang saya takutkan, mereka melakukan aksi tanpa tahu apa yang mereka perjuangkan, gagal di akademis kemudian melampiaskan rasa ke ajang demo, ikutan aksi biar dibilang keren, atau jangan-jangan sang kordinator ngga mampu mengendalikan peserta demo (ini mah soal teknis di lapangan).

Jaman saya kuliah dulu, yang paling ditakuti ketika berdemo adalah masuknya provokator (“intel” yang menyamar) di peserta demo.

Ah, mudah-mudahan cepet selesai.

Cahaya Bulan

Ini lagu dari soundtrack GIE yang sampai sekarang bikin merinding … selain tentu “Donna-Donna”. chord-nya ambil di internet, males ah ngulik sendiri … sori ngga sempet catet ambil di situs mana. Jadinya ngga bisa kasih “credit”.
sok atuh, mangga di”genjreng” gitar-na 🙂

_____________________________

CaHaYa BuLaN

Intro: G5 D F/B G5

C
Perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
Dm G
Cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang
Di sini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
Kenapa matahari terbit menghangatkan bumi?

*
F Em Dm C
Aku orang malam yang membicarakan terang
F Em Dm G C (Dm Em F)
Aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang

Perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
Cahaya nyali besar mencuat runtuhkan badai
Di sini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
Kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi?

F Em Dm C
Aku orang malam yang membicarakan terang
F Em Dm G F (G)
Aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang

**
C Dm Em F
Cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan
Em Am Dm G
Yang takkan pernah kutahu, di mana jawaban itu
C Dm Em F
Bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi
Em Am Dm G Am
Sudah waktunya berdiri, mencari jawaban kegelisahan hati

Interlude:
Am D7/F# F Em
Am D7/F# F G

C Dm Em Am
Terangi dengan cinta di gelapku
Dm G C
Ketakutan melumpuhkanku
C Dm Em Am
Terangi dengan cinta di sesatku
Dm G F G
Di mana jawaban itu?

**

Coda:
F Em Am G (2x)
C Dm Em F (2x)
C

An Evening with Duran-Duran

Akhirnya keinginan untuk nonton Duran-Duran live di Jakarta ngga bisa lagi terbendung …. ! Setelah seminggu bimbang apakah harga tiket Rp 750ribu worth untuk menonton Duran-Duran, ini yang namanya emosi mengalahkan rasio 🙂

Nyampe di venue sekitar jam 19.50, masih kepagian nih … mengingat show baru dimulai pukul 21.00. Beli tiket di ticket box, sementara banyak banget calo di luaran nawarin. Dengan harga lebih murah malah …. aneh ya, dari mana mereka dapat tiket?

Sambil nunggu teman di luar arena, gw asik memperhatikan calon penonton yang lalu lalang, kaum “snob” dan tentu saja: wartawan infotainment dan para celebrity yang saling berinteraksi. Sekilas ada Lilo ex KLA, Maia Ratu, pasangan Pongky Jikustik dan Sophie, Tika Panggabean dan Ujo, Wingky Wiryawan, Rahma Azhari, Radja, Farhan dan banyak lagi. Sebagian besar emang generasi 80’s ya … saat dimana Duran-Duran jadi raja. Bisa dipastikan, ini pasti konser nostalgia.

Masuk ke arena konser, lampu masih terang. Latar belakang panggung adalah set kota besar dengan bangunan-bangunan tinggi. Drum Roger Taylor di kiri belakang, dan Keyboard Set Nick Rhodes di sebelah kanan. Not bad! Persis di depan panggung berderet beberapa baris kursi VVIP, dan setelah pagar pembatas, berdiri penonton festival. Tribun atas diperuntukkan untuk kelas VIP.

Persis jam 21.00, lampu gedung dimatikan dan lampu sorot warna warni panggung dinyalakan, asap tipis memenuhi panggung. Sekilas siluet personel Duran-Duran nampak menaiki panggung dan memainkan “the valley”. Penonton semua histeris!

Seperti saya bilang tadi, IMHO ini adalah konser nostalgia, dimana hampir seluruh penonton menunggu-nunggu dibawakannya hits-hits era 80an, makanya begitu lagu pertama selesai dan Simon teriak, “Are You hungry?” maka seketika penonton melompat dan berteriak,”Yes! Hungry Like the Wolf!”.

Jadinya seperti sudah diduga, saat lagu-lagu seperti A View to A Kill, Save a Prayer, The Reflex, Union of the Snake, Girls on FIlm, Wild Boyz, Ordinary World, Rio dan lain-lain dibawakan, maka koor bareng sukar dielakkan dan JCC seketika menjadi dance-floor. Dan seketika adem ketika lagu-lagu baru (seperti the Valley, Red Carpet Massacre, Skin Divers, dll) dinyanyikan.

Hmm, overall, gw enjoy banget! Lagu-lagu baru Duran-Duran meski ngga 100% nyanthol di kuping, tapi tetap enak dibuat dance. Menikmati vocal Simon yang khas masih mampu menaiki nada-nada tinggi -meski beberapa kali sengaja diturunkan, gebukan drum Roger Taylor, gaya Nick Rhodes -yang oleh Simon di sebut orang planet karena peralatannya yang techie- rajin merekam ulah penonton dari belakang keyboards set dan bintang malam itu, John Taylor yang keren abis!

Worth it lah!

Ada Apa dengan Kambing ???

Pagi ini ngoprek Hardy di rumah, lha kok si “Kambing” ngga bisa diakses ?

Ono Opo iki, maintenance kah?

Err http://kambing.ui.edu hardy Release.gpg
  Could not connect to kambing.ui.edu:80 (152.118.24.30), connection timed out
Err http://kambing.ui.edu hardy/main Translation-en_US
  Unable to connect to kambing.ui.edu http:
Err http://kambing.ui.edu hardy/restricted Translation-en_US
  Unable to connect to kambing.ui.edu http:

Here Comes the Hardy!

Hari Rabu lalu, paket Ubuntu 8.04 Hardy Heron dari Shipit sudah datang. Hari ini di PC rumah, Gutsy secara resmi dilengserkan dan digantikan oleh Hardy (setelah ditimbang2, diputuskan untuk fresh install).

Baru tahu ternyata Firefox bawaan dia (versi 3) masih beta.  Belum sempat liat lebih detil ke Open Office 2.4, baru coba launch … sepertinya lebih cepat dari versi sebelumnya. Segera mindahin sources list ke server kambing dan install Mozilla Thunderbirds, AWN, necessary codecs, dan kustomisasi sana sini (theme, compizfusion, etc).

Next thing .. tinggal bayar orderan repo DVD ke toko online langganan dan tunggu kiriman paketnya. Hihih…