Mobile Phone: Alat Bantu atau Majikan?

Saat ini sudah jamak kita melihat orang menggunakan telepon genggam atau “hape”. Dari model yang paling mutakhir macam Blackberry sampai yang paling simple (cukup buat telepon, sms dan iya … lampu senter). Penggunanya dari mulai Top Executive sampai abang-abang penjual es batu. Saya sih ngga pernah survey, tapi mungkin hanya 1 dari 10 orang di Jakarta ini yang ngga punya “hape”. Bahkan teman-teman anak saya di sekolahnya yang baru kelas 1 SD pun, sudah membawa “hape” ke sekolah. Aduh!

Tulisan saya ini ngga ingin bicara soal besarnya market “hape” Indonesia yang mungkin bikin pabrik-pabrik telepon itu bisa tetap berproduksi. Saya hanya concern sama perilaku sebagian besar pengguna “hape” itu.

Sering saya menghadiri sebuah seminar atau training, dimana sedang asyik-asyik mendengarkan pembicara … eh tiba-tiba ada telepon bunyi. Sebelnya lagi, dengan cueknya si penerima telepon berbicara seolah-olah hanya dia yang ada di ruangan itu.

Sering kita ngga sadar jika sedang menerima telepon, maka kita cenderung untuk bersuara lebih keras. Mungkin untuk memastikan si lawan bicara mendengar suara kita. Sehingga apabila sedang di dalam ruangan tertutup seperti ruang meeting, lift atau bus, maka pembicaraan kita akan dapat terdengar dengan jelas oleh orang-orang di sekitar situ.

Beberapa kali, ketika sedang sholat Jum’at, tiba-tiba terdengar suara ring tone. Semua konsentrasi jadi terganggu. Kira-kira siapa yang salah, si penelepon yang ngga tahu waktu-kah atau si pemilik “hape” yang tidak mematikannya?

Atau pernah tidak, ketika sedang meeting, tiba-tiba lawan bicara Anda menerima telepon masuk? Sebel ngga?

Di sisi lain, pernah ngga kita sebel kalau tidak berhasil menghubungi seseorang (ngga diangkat)? Kenapa?

Maka pertanyaan saya: mestikah kita menerima semua panggilan telepon yang masuk? Saat itu? Seberapa pentingkah? Kalau engga, kenapa?

Memang tak bisa dipungkiri, adanya “hape” membuat seseorang bisa menghubungi dan dihubungi dimana saja dan kapanpun. Tapi, bukankah kita selalu punya kemerdekaan dan pilihan untuk “menerima” atau “tidak” panggilan telepon yang masuk? Bukankah, teknologi dibuat sebagai alat bantu, bukannya untuk “memperbudak” kita?

Kalau di dunia internet ada yang namanya NETIQUETTE, apa ada ya yang sejenis di dunia per”hape”an gitu? Mungkin semacam kode etik seperti:
– bila urgent/penting sehingga perlu jawaban cepat –> call
– tidak penting dan tidak perlu jawaban cepat –> sms
– sms dulu apa bisa/boleh ditelepon?
– jam-jam boleh menelepon.
– bicara seperlunya
– dll.

Gimana menurut Anda? Apa saya yang terlalu kuno?
🙂