Catatan Perjalanan 4 – Cinta Memang Kejam

Ini true story.

Jadwal keberangkatan KA Argo Bromo ke Surabaya terpaksa ditunda karena seorang wanita tiba2 naik ke dalam gerbong kereta api yang akan berangkat dan berteriak2 ke seorang pria. Ngamuk-ngamuk dia. Kereta baru diberangkatkan ketika security dipanggil dan setelah dibujuk akhirnya wanita itu mau turun dan kereta bisa berangkat.

Dari bisik2, konon wanita itu adalah istri kedua. Hah … Ada-ada saja.

Advertisements

Upgrade ke Virtualbox 4.0 di Ubuntu 10.04

Salah satu breakthru teknologi dasawarsa ini adalah virtualisasi. Virtualisasi memungkinkan sebuah mesin untuk diinstall beberapa (operating) sistem sekaligus. Virtualisasi memberikan paradigma baru pada teknologi server. Dengan teknologi ini, beberapa fungsi server dapat digabung ke dalam satu mesin sehingga muncul efisiensi di biaya overhead. Saat ini virtualisasi sudah jamak dipergunakan. Data Center yang dulu berisikan puluhan atau ratusan server, sekarang tinggal beberapa server saja. Virtualisasi bisa juga dilakukan di level desktop.

Ada beberapa software Virtualisasi yang sering dipergunakan. Diantaranya adalah VMWare, QEMU, Windows Virtual Machine dan Virtualbox. Saya pilih Virtualbox karena jalan di Ubuntu Linux saya dan tentunya … gratis! Saya mempergunakan Virtualisasi sebagai work around (rather than pilihan untuk ‘dual booting’) karena terkadang saya masih perlu bekerja di environment Microsoft Windows.  *Sigh ….  *

Informasi mengenai Virtualbox bisa Anda baca di sini: http://www.virtualbox.org/.

Environment saya saat ini adalah Lenovo ThinkPad SL400, Intel Core 2 Duo T5670 @ 1,8GHz  dengan Ubuntu Lucid Lynx 10.04 running di atasnya. Virtualbox sebelumnya adalah versi 3.1.x

Untuk instalasi/upgrade, situs berikut saya pergunakan sebagai referensi: http://www.ubuntugeek.com/virtualbox-4-0-released-and-ubuntu-10-1010-049-10-installation-instructions-included.html. Anda bisa pakai cara tersebut, atau bisa pakai cara saya sbb:

  1. Download source Virtualbox dari situsnya: http://www.virtualbox.org/wiki/Downloads
  2. Pilih yang sesuai platform Anda.  Dalam hal ini saya pilih Linux platform untuk Ubuntu 10.04 : http://www.virtualbox.org/wiki/Linux_Downloads. Paket (file) yang terdownload akan berextensi .deb.
  3. Cari paket yang sudah Anda download.
    Jika Anda akan upgrade, Anda mesti uninstall Virtualbox Anda yang lama.
    jalankan …. sudo apt-get remove Virtualbox
  4. Lakukan instalasi paket. Biar mudah, Anda bisa mempergunakan Nautilus. Cari paketnya, klik kanan lalu pilih “Open with GDebi Package Installer”.
  5. Lakukan instalasi paket dkms.
    jalankan …. sudo apt-get install dkms atau Anda bisa melakukannya melalui Synaptic Package Manager.
  6. Jangan lupa install juga VirtualBox 4.0 Oracle VM VirtualBox Extension Pack untuk USB support
  7. Jangan lupa install/upgrade juga VirtualBox Guest Additions.

Catatan:

Bila Anda berada di kantor dan dibatasi oleh Proxy seperti yang saya alami, situs berikut dapat membantu: http://www.cnttbachkhoa.co.cc/blog/post/13/

Catatan Perjalanan – 3 : Infrastruktur

Di Indonesia, faktor penting dalam pengambilan keputusan untuk melakukan perjalanan adalah “timing”. Pengalaman yang Anda akan lalui bisa jadi berbeda 180 derajat jika Anda melakukan perjalanan ketika musim mudik Idul Fitri, misalnya. Ini akan terasa terutama di kesiapan aspek infrastruktur jalan raya.

Musim mudik Idul Fitri secara “de facto” menjadi puncak kegiatan perbaikan infrastruktur di jalur Pantura. Kegiatan perawatan jalan dilakukan dan dikebut 2-3 bulan hingga H-7 (seminggu sebelum Idul Fitri) Pekerjaan bisa dilakukan 24 jam sehari. Pengalaman saya, dalam waktu-waktu tersebut tidak direkomendasikan untuk melakukan perjalanan darat melalui Pantura. Akan banyak sekali ruas jalan diperbaiki sehingga lalu lintas akan padat di beberapa titik.

Saat paling nikmat adalah di rentang waktu H-7 hingga H+7. Saat itu jalanan relatif mulus, di setiap titik potensi kemacetan (seperti perempatan, pasar tumpah) akan dikawal oleh petugas,  dan “U-Turn” yang berpotensi menimbulkan kemacetan akan ditutup. IMHO, ini adalah titik puncak kesiapan infrastruktur jalanan khususnya di Pantura.

Lalu bagaimana bila Anda harus melakukan perjalanan di luar rentang waktu tersebut?

Jalan mulus hanya bertahan beberapa bulan. Begitu musim hujan, selesai dah 🙂 Jadi tipsnya, siapkan mental, kesehatan dan kondisi kendaraan Anda. Karena Anda akan berhadapan dengan jalan yang berlubang-lubang (bahkan di jalan tol Kanci sekalipun), penyeberang jalan, U-Turn dan pasar tumpah. Well ….

Kadang saya heran masa sih tidak ada teknologi engineering yang memungkinkan jalan mampu bertahan lebih dari setahun?

Catatan Perjalanan – 2 : Family Ties

Perjalanan bisa juga mempererat ikatan keluarga. Dalam satu kendaraan lebih dari 5 jam, tentu “memaksa” Anda untuk punya quality time dengan keluarga.

Kali ini saya berkesempatan untuk berkisah mengenai asal mula huruf Jawa -kisah Ajisaka. Cerita ini berkesan buat saya, karena kisah ini pun saya dapatkan dari almarhum Ayah saya ketika saya masih kecil. Sekarang saya mesti bercerita ke anak-anak saya … what a life!

Secara lengkap cerita itu dapat diambil di sini:  http://ashiiqa.wordpress.com/2007/12/20/kisah-ajisaka-asal-mula-aksara-jawa/

Jaman dulu, di Pulau Majethi, hidup seorang satria bernama Ajisaka. Selain ganteng, Ajisaka juga punya ilmu tinggi dan sakti. Ajisaka punya dua orang punggawa bernama Dora san Sembada. Dua orang itu sangat setia dan nurut sama Ajisaka. Suatu hari, Ajisaka ingin pergi berkelana, bertualang meninggalkan Pulau Majethi. Dora pergi menemani Ajisaka sedangkan Sembada tetap tinggal di Pulau Majethi karena Ajisaka memerintahkan Sembada untuk menjaga pusaka Ajisaka yg paling sakti. Ajisaka berpesan pada Sembada bahwa Sembada ga boleh menyerahkan pusaka itu kepada siapapun kecuali Ajisaka.

Nah, pada waktu itu di Jawa ada negara yang terkenal makmur, aman, dan damai, yang berjudul Medhangkamulan. Negara itu dipimpin oleh Prabu Dewatacengkar, raja yang berbudi luhur dan bijaksana. Seuatu hari, juru masak kerajaan tidak sengaja memotong jarinya waktu masak. Juru masak itu ga sadar bahwa potongan jarinya masuk ke hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Raja. Tanpa sengaja juga, jari itu termakan oleh Prabu Dewatacengkar. Ga disangka, Prabu Dewatacengkar merasa daging yang dia makan sangat lezat, kemudian ia mengutus patihnya menanyai juru masak kerajaan. Ternyata kemudian diketahui bahwa yang tadi dimakan oleh Prabu Dewatacengkar adalah daging manusia, ia memerintahkan kepada patihnya untuk menyiapkan seorang rakyatnya untuk disantap setiap harinya. Sejak itu Prabu Dewatacengkar punya hobi baru, yaitu makan danging manusia. Wataknya berubah jadi jahat dan senang melihat orang menderita. Negara itu berubah jadi negara yang sepi karena satu per satu rakyatnya dimakan oleh rajanya, ada juga rakyat yang lari menyelamatkan diri. Sang Patih bingung, karena ga ada lagi rakyat yang bisa disuguhkan kepada rajanya.

Saat itulah Ajisaka bersama Dora sampe di Medhangkamulan. Ajisaka heran melihat keadaan negara yang sunyi dan menyeramkan itu, kemudian ia mencari tahu sebabnya. Setelah tau apa yang terjadi di Medhangkamulan. Ajisaka lalu menghadap Patih, menyatakan bahwa ia sanggup menjadi santapan Sang Raja. Awalnya Sang Patih tidak mengijinkan Ajisaka yang masih muda dan (ehem..) ganteng jadi santapan Prabu Dewatacengkar, tapi Ajisaka tetep maksa sampe akhirnya dia dibawa juga untuk menghadap Prabu Dwatacengkar. Sang Prabu juga heran, kenapa orang yang masih muda dan tampan mau-mau aja jadi santapannya. Ajisaka mengajukan syarat, dia rela dimakan Sang Prabu asal dia dihadiahi tanah seluas ikat kepalanya. Selain itu, Ajisaka juga minta Prabu Dewatacengkar sendiri yang mengukur tanah tersebut. Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Prabu. Ajisaka kemudian meminta Prabu Dewatacengkar menarik salah satu ujung ikat kepalanya. Ajaibnya, ikat kepala itu mulur terus kayak ga ada habisnya. Prabu Dewatacengkar terpaksa mundur dan mundur terus mengikuti ikat kepala itu sampe di tepi laut selatan. Ajisaka mengibaska ikat kepala tersebut, hal ini membuat Prabu Dewatacengkar terlempar ke laut. Wujud Prabu Dewatacengkar lalu berubah menjadi buaya putih, sedangkan Ajisaka menjadi raja di Medhangkamulan.

Setelah jadi raja, Ajisaka menyuruh Dora pergi ke Pulao Majethi untuk ngambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Sampe di Pulau Majethi, Dora menjelaskan pada Sembada bahwa dia datang atas perintah Ajisaka untuk mengambil pusaka yang dijaga Sembada. Sembada yang patuh pada pesan Ajisaka ga mau ngasih pusaka itu ke Dora. Dora memaksa agar pusaka itu diserahkan ke dia. Akhirnya dua orang itu bertarung. Karena dua-duanya sama-sama sakti, pertarungan berlangsung seru sampai mereka berdua tewas.

Prabu Ajisaka mendengar kabar kematian Dora san Sembada. Dia menyesal mengingat kelalaiannya dan kesetiaan Dora dan Sembada. Untuk mengabadkan dua punggawanya itu Ajisaka menciptakan sebuah aksara yang bunyinya :
ha na ca ra ka
Ana utusan (ada utusan)
da ta sa wa la
Padha kekerengan (saling berselisih pendapat)
pa dha ja ya nya
Padha digdayané (sama-sama sakti)
ma ga ba tha nga
Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat)

Meski cerita versi saya tidak persis seperti tulisan di blog di atas, inti sari nya sama. Yang penting, anak-anak tahu bahwa tulisan yang sering mereka lihat di kota neneknya adalah tulisan Jawa 🙂

 

bersambung

Catatan Perjalanan – 1 : Perspektif Baru

Perjalanan bisa menjadi obat untuk hati yang kecewa. Bisa membantu dengan memberi sedikit ruang pada hati dan kepala untuk sedikit mundur ke belakang. Introspeksi dan melihat ke dalam diri. Kenapa mesti kecewa?

Pemandangan sepanjang jalanpun seolah memberi perspektif baru pada hati. Seperti:

Pernahkah ada yang menghitung berapa banyak mesjid indah di sepanjang pantura?

Mana lebih penting, membangun masjid yang milyaran atau memberdayakan ekonomi masyarakat pantura yang masih miskin?

Adilkah bagi Anda pengendara, bila perjalanan Anda dihentikan oleh serombongan peminta sumbangan (untuk alasan pembangunan masjid) ?

Berapa Rupiah dalam sehari yang diperoleh oleh orang-orang yang duduk di sepanjang jembatan sambil membawa sapu lidi? Tadinya saya pikir mereka minta imbalan karena sudah menyapu jembatan, tapi ternyata sapu lidi itu lebih berguna untuk berebut uang receh yang dilemparkan oleh pengendara.

bersambung…