Tanggal Istimewa

Hari ini adalah tanggal istimewa, 29 Februari yang merupakan tahun kabisat. Jadi praktis, hanya terulang 4 tahun sekali. Kebayang jika kebetulan ada yang berulang tahun di tanggal ini. Apakah peringatannya dimundurkan ke tanggal 1 Maret atau 28 Februari ya?

 

Advertisements

Ternyata (Amat Sangat) Bergantung pada Internet

Sad but true!

Beberapa hari di pedalaman kab Sleman yang hanya mendeteksi sinyal EDGE itupun kadang muncul kadang hilang membuat saya kerepotan. Kebutuhan saya untuk selalu terhubung ke kantor, teman-teman dan lain-lain membuat saya seperti orang “bingung”.

Untuk mendapatkan koneksi internet saya mesti bersepeda sekitar 4 km dulu. Ini baru hari kedua padahal …. poor me 😦

Saya akan pilih presiden yang punya program Internet masuk desa!

Mencoba Commuter Line – Selalu Ada Pertama Kali

Sebenarnya naik KRL bukanlah baru pertama kali ini, hanya saja memang saya ingin mencicipi bagaimana rasanya sistem baru yang disebut sebagai “commuter line” ini. Apakah sama dengan MRT atau LRT di negara tetangga? Kebetulan semalam saya punya kesempatan untuk mencoba. Saya ada urusan di Depok kemarin sore. Jadi saya pikir kapan lagi saya bisa coba?

Saya tahu bahwa stasiun Depok Baru ada di belakang terminal. Terakhir saya ke sini sudah bertahun-tahun lalu. Yang saya ingat adalah saya harus melewati lorong panjang di antara penjual kaki lima untuk sampai di stasiun yang letaknya agak di belakang terminal. Tapi kemarin sore saya harus bertanya dulu sebelum menemukan di mana stasiunnya. Setelah saya melewati lorong panjang  di antara pedagang akhirnya sampai juga ke stasiun Depok Baru. Bangunannya tidak berubah. Jam saat itu menunjukkan pukul 18.45 petang.

Ada 4 loket di stasiun, 2 untuk ekonomi dan 2 untuk commuter line. Terus terang saya tidak tahu bedanya. Saya diarahkan untuk membeli tiket Commuter Line. Tiket seharga Rp 6000 untuk jurusan Depok Baru – Jakarta Kota. Sebenarnya dijual juga yang jurusan Depok Baru – Bekasi.

Begitu di peron, kesan pertama: kumuh dan kotor. Penerangan terasa seadanya. Asap rokok di mana-mana. Tidak ada petunjuk di kereta akan ada di peron mana. Petugas yang akan menginformasikan kereta kita akan ada di peron mana. Tak lama sebuah kereta datang, dan karena ragu saya pun bertanya pada seseorang. “Bukan Mas, ini yang ke Bekasi”. Nah kan, untung saya bertanya 🙂

Di sepanjang peron berjajar kios-kios. Salah satunya menjual kaset bekas. Koleksinya lumayan. Beberapa judul yang saya yakin sudah “Out of Play” ada di situ. Misalnya Blue Murder, Van den berg dan Boney M. Sempat nanya dijual Rp 15,000 per buah. Sayangnya saya sedang tidak “mood” untuk belanja.

Tak lama, kereta saya pun tiba. Not bad at all. Bersih, terang dan ber AC. Tidak terlalu padat, malah terkesan lowong. Mungkin karena saya “melawan arus”. Jam segini yang padat pasti yang menuju Bogor. Beberapa kali kereta kami berpapasan dengan kereta yang penuh sesak.

Sepanjang perjalanan saya berusaha mengenali stasiun-stasiun. Terkadang di beberapa stasiun terdengar pengumuman yang menginformasikan lokasi stasiun, tapi beberapa lagi tidak. Sehingga saya mesti berkonsentrasi memperhatikan stasiun-stasiun itu. Untuk memastikan saya tidak terlewat. Akibatnya saya tidak bisa tidur, huft … padahal saya kurang tidur semalam. Iri melihat ibu-ibu duduk meringkuk terlelap berbalut jaket di depan saya.

Saya berusaha membaca grafik peta rute yang berada di atas pintu. Jika saya ingin ke Jalan Jen. Sudirman berarti saya harus berhenti di stasiun Manggarai untuk transit, berganti dengan kereta yang menuju Tanah Abang. Hmmm, mirip Benton Junction kalau di Singapore mungkin ya. Stasiun ini merupakan “hub” untuk menghubungkan jalur-jalur kereta dari segala arah.

Terus terang saya mengalami kesulitan untuk mengenali saat ini sedang ada di stasiun mana. Terpaksa saya mesti bertanya kepada penumpang di sebelah saya yang sedang beranjak berdiri untuk turun di stasiun depan. “Ini Tebet, Mas. Manggarai satu lagi”. Oh, oke … thanks.

Tak lama kereta sampai ke Manggarai dan saya pun turun.Begitu turun saya pun kebingungan, karena berada di tengah-tengah jalur kereta api. Di hadapan saya sudah tersedia kereta siap berangkat yang ternyata menuju Bekasi. Saya mesti bertanya lagi kepada petugas di peron mana saya mesti menunggu kereta Tanah Abang. Peron 5, eh ternyata sudah ada papan petunjuknya. Saya aja yang kurang teliti hehehe.

Meski lebih besar dari stasiun Depok Baru, kesan kotor, dan muram juga terasa di stasiun Manggarai ini. Calon penumpang duduk di lantai, asap rokok, pedagang kaki lima dan pembelinya berbaur jadi satu. Berbaur bersama lengkingan peluit kereta api dan teriakan petugas untuk memperingatkan pejalan kaki apabila kereta akan lewat.

06022012755

Cukup lama saya menunggu. Saya jadi paham keluhan yang saya baca di koran-koran. Berbeda dengan misalnya dengan MRT Singapore dimana kedatangan kereta sudah relatif pasti. Bahkan tersedia informasi berapa menit lagi kereta berikut akan datang. Sehingga calon penumpang tidak gelisah. Dan seperti pengalaman saya sebelumnya, saya kesulitan membedakan kereta mana menuju ke mana. Ketika sebuah kereta tiba, saya beranikan diri untuk bertanya.”Bukan, Mas. Ini menuju Kota.” Nah, lagi-lagi saya beruntung bertanya. Menurut ibu-ibu yang duduk di sebelah, saya cukup mendengarkan informasi dari petugas stasiun kereta apa yang akan datang. Waduh, ribet ya …

Akhirnya kereta saya tiba. Dan … ternyata non AC, teman-teman! Kebetulan saya dapat gerbong yang tidak ada pintunya, dan sebagian lampunya mati. Masih untung jika dibanding gerbong sebelah yang semua lampunya mati. Di lantai kereta, duduk seorang wanita membawa sapu yang sedang menyapu sampah yang terserak di lantai. Ketika kereta sudah berjalan, seorang peminta-minta pun berkeliling meminta sedekah. Wah, beda banget dengan kereta sebelumnya ya?

Tidak ada pemeriksaan tiket di rute ini.

06022012760

Untungnya stasiun Sudirman hanya berjarak dua stasiun dari Manggarai. Begitu turun di stasiun Sudirman, suasana yang ada bagai bumi dan langit! Stasiun ini terang, modern, bersih, dan rapi. Beda banget dengan stasiun-stasiun yang saya lihat sebelumnya. Ada lift dan eskalator untuk calon penumpang. Lantai keramik yang putih bersih dan kursi tunggu penumpang yang bagus. Penumpang yang naik pun terlihat beda. Rapi dan bersih, lihat gambar di bawah dan bandingkan dengan stasiun Manggarai. Apa karena ini stasiun yang berada di jalur protokol makanya dibuat berbeda? Bukankah sepanjang perjalanan penumpang akan bisa membandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya?

06022012762

Well, pada akhirnya memang mungkin ekspektasi saya harus disesuaikan dulu. Untuk menjadi seperti Singapore atau Malaysia, masih banyak yang perlu dibenahi. Meski saya yakin kita sudah berada di track yang benar. Bagaimanapun, kereta api adalah solusi angkutan massal yang saya yakin bisa mengurangi jumlah kendaraan beredar di kota Jakarta yang tambah padat ini.

Dan perjalanan ini telah menambah satu lagi pelajaran buat saya.