Nama Palsu (di Internet)

Sedang rame menyoal keberadaan sebuah account twitter yang secara politik sering dijadikan referensi. Sampai ada yang melaporkan ke Pak Pulisi segala.

Padahal account tersebut tidak jelas punya siapa. Artinya kredibilitasnya pun layak dipertanyakan. Kontent twit nya pun layak dipertanyakan. Yang ditwit itu fakta atau gosip? Mereka selalu bilang punya data sih. Tapi emang ada yang verify?

Kalau saya: kalau account gak jelas, kemungkinan besar yang ada di situ tidak bisa dipertanggungjawabkan. Itu gosip. Itu persepsi. Bukan fakta πŸ™‚

Di internet orang boleh ngomong apa saja. Memang ada UU ITE, tapi sejak diimplementasikan kok menurut saya orang tetep cuek aja tuh. Ngomong (eh, nulis kali ye) apa aja, forward email/bbm gak jelas, deface website orang, dll. Orang mah sekuler aja. UU ya UU, kita ngenet ya biasa aja πŸ™‚

#edisinunggumacet

 

Advertisements

Soal Comment di Berita Online

Suka membaca comment yang ada di berita-berita online tidak?

Salah satu keunggulan media berita online dibanding yang versi kertas adalah kemampuannya membangun komunitas pembaca dimana dia memberi ruang untuk interaksi dengan pembacanya baik berupa forum ataupun kesempatan untuk memberikan comment di setiap berita yang ada.

Terus terang, saya suka membaca comment-comment tersebut. Kadang saya takjub bagaimana berita yang sama menimbulkan perspektif yang berbeda. Banyak juga comment yang kasar dan menurut saya tidak pantas diposting tapi banyak juga comment yang bijaksana dan fair (menurut perspektif saya). Tak jarang mereka saling berantem sendiri. Berantem secara maya …. πŸ™‚

Pengamatan saya juga, tak sedikit yang pakai nama “palsu”. Hmmm, kategori ini nih yang ini biasanya yang suka berkomentar “di luar normal”. Bikin heboh … apapun motivasinya. Perhatiin deh, apalagi ketika jaman pilkada Jakarta. Seru. Semua orang boleh omong apa aja, paling bener dan paling pinter.

Ibarat kita duduk bareng di warung kopi kemudian diskusi membahas suatu berita, tapi jika lawan diskusi kita “ngawur” dan “tidak beretika” ya akhirnya jadi gondok aja kan ya? Kalau di warung kopi kita bisa “toyor” tu kepalanya, tapi kalau di dunia maya? Lah, siapa orangnya aja kita gak tau?

Mungkin mulai besok saya berhenti baca comment-comment itu ya. Bikin gondok aja.

#edisinunggumacet

 

 

 

 

 

Portnoy Sheehan Macalpine Sherinian Live

Malam itu saya berkesempatan lagi menyaksikan secara ‘live’ penampilan musisi-musisi yang boleh disebut sebagai “professor” di alatnya masing-masing. Kesempatan yang bisa dibilang langka karena mereka berkumpul sebagai satu grup ini mungkin adalah bersifat temporer atau project. Mereka ini terkenal sebagai musisi ‘cabutan’ sehingga belum tentu tahun depan masih bisa bareng-bareng πŸ™‚

Mike Portnoy, Billy Sheehan, Tony Macalpine, dan Derek Sherinian main di sebuah festival rock yang disponsori oleh sebuah pabrik rokok di hari Minggu malam di lapangan Senayan Jakarta. Awalnya saya mengernyitkan kening … di minggu malam? dimana esok harinya harus kerja? hmmm ….

Anyway, I made it. Mereka dijadwalkan main jam 21.30 malam di panggung utama yang disebut Distortion. Panggung dimana malam sebelumnya Sepultura sukses memuaskan dahaga penonton Jakarta. Ketika saya datang sekitar jam 20.00, suasana lumayan sepi untuk ukuran festival rock. Tiket Rp 150 ribu rasanya mungkin agak kemahalan bila nonton konser musik rock lokal, tapi bila yang hadir adalah para “professor” seperti mereka ini maka rasanya angka tersebut tergolong amat murah. Bandingkan saja dengan tiket Dream Theater atau konser para boys/grilsband dari Korea! πŸ™‚

Molor sejam, akhirnya konser dimulai pukul 22.30. Dibuka dengan komposisi Dream Theater “a change of season” dan ditutup oleh komposisi dari David Le Roth “Shy Boy” dimana Billy, Portnoy dan kami -penonton- jadi penyanyinya. Konser ini konser instrumental full. Mike Portnoy sepertinya ditunjuk jadi leader untuk terus berkomunikasi dengan penonton. Dan ia berhasil melaksanakan tugas itu dengan baik.

Konser ini amat sangat progressive dan skillfull. Mestinya mereka ini main di Java Jazz. Masih jauh lebih cocok daripada misalnya dipaksakan musik bukan jazz seperti -maaf, Andra and the Backbone, Kla Project, dll – untuk main di event itu πŸ™‚

Untuk penikmat musik progressive dan instrumental yang mempertontonkan skill seperti kemarin, satu setengah jam rasanya kurang.

Saya sempat merekam beberapa lagu dengan kamera pocket saya, tapi dengan alasan size file yang lumayan besar dan koneksi internet yang sedang lelet maka saya hanya tampilkan yang ini saja. Lagipula, Tony Macalpine adalah salah satu guitar hero saya. Sempat merinding ketika mendengar “The Stranger” dibawakan secara live malam itu.

Sempat amat gemes ketika membaca sebuah review di media online sbb: “Hanya Tony McAlpine yang mungkin kemampuannya sedikit di bawah John Petrucci, sang gitaris dan kini menjadi motor utama Dream Theater. ” Ini wartawan moga-moga sudah riset dan denger semua album dari Tony dan sadar ketika nulis kesimpulan ini. Kalau ekspektasinya lick-lick John Petrucci akan dibawakan secara “plek” oleh gitaris kelas dunia seperti Tony Macalpine seperti di kaset, wah, wah … sepertinya wartawan ini perlu belajar musik dan nambah wawasan lagi πŸ™‚

Keturutan juga nonton Tony Macalpine live. Kapan ya, Vinnie Moore maen di Jakarta?

Sync Address Book di Mac Book dengan Blackberry

Setelah beberapa lama googling, akhirnya nemu link yang bener-bener bisa memecahkan masalah saya. Selama ini saya kerepotan untuk memanajemen kontak dan kalender saya di device saya yang beda platform. Yang satu IOS dan satunya Blackberry.Β  Ya, ya … saya memang masih pakai BB πŸ™‚

Saya nggak ngerti kenapa Blackberry Desktop Software tidak berhasil melakukan sync Address Book antara Mac dan Blackberry device saya. Untuk proses sync IOS IphoneΒ  dengan Mac Book karena satu platform tentunya tidak bermasalah.

Ternyata masalahnya ada di iCloud!
Ya, iCloud. Fitur ini sepertinya memang “sengaja” membatasi user Apple untuk tetap pakai produk Apple πŸ™‚ Blog berikut adalah work-around untuk mengakali hal tersebut.

http://macamour.com/blog/2011/11/06/sync-icloud-enabled-ical-and-address-book-to-blackberry-handhelds/

Sebenarnya cara lain yang menurut lebih baik adalah mempergunakan layanan google sebagai “server” yang menjadi pusat repository. Misalnya mempergunakan fitur address book atau google calender yang bisa diadopsi/sync oleh hampir semua platform. Saya katakan hampir karena saya belum berkesempatan mencoba dengan Windows 8 πŸ™‚

Enaknya ya jaman sekarang ….