Catatan Kecil Perjalanan – Modus Baru

42311996 Dalam perjalanan menuju Surabaya, kami berhenti di sebuah masjid besar yang tarletak di pinggir jalan daerah Lamongan arah Surabaya. Untuk menunaikan sholat ashar sekaligus beristirahat sejenak karena Surabaya masih sekitar satu jam lagi.

Saat selesai menunaikan sholat ashar kami baru sadar kalau ada seorang remaja berusia sekitar 14-15 tahun ikut berjamaah bersama kami. Dengan ramah, ia menyapa kami dari mana dan menuju ke mana. Dengan lançar ia bercerita bahwa ia bersama keluarga dalam perjalanan dari Lampung menuju Bali, dan sedang kena musibah. Tas milik ibunya hilang ketika berziarah di petilasan Sunan Bonang, yang memang kami juga lewati tadi. Dia bilang bensin kendaraan ayahnya tinggal 3-4 liter sehingga mereka putuskan untuk ke Malang ke rumah salah satu keluarganya. Dia pun tidak yakin bensin sejumlah itu cukup untuk sampai Malang. Dia bercerita sembari kami berjalan dari dalam masjid menuju parkir mobil.

Di parkir mobil, saya bertemu istri saya yang juga baru selesai sholat. Ternyata ada seorang remaja putri yang juga sedang bersama istri saya. Usianya lebih muda, sekilas wajahnya mirip dengan remaja putra yang bersama saya. Saya berkesimpulan mereka bersaudara. Dari istri, saya tahu bahwa cerita mereka soal kehilangan tas sama persis. Saya mulai paham bahwa mereka minta bantuan. Kami dengarkan cerita mereka sambil menunjukkan reaksi empati, meski ada sedikit keraguan. Saya lirik mobil yang mereka pakai, sebuah kijang lama berwarna hijau tapi bernomor polisi AA. Setahu saya itu nomor polisi Jawa Tengah, bukan Lampung! jadi ada yang tidak cocok di sini. Dekat mobil itu ada seorang dewasa yang mengamati kami.

Kami doakan mereka agar semua urusan lancar dan kami bergegas menuju kendaraan kami. Kedua remaja tersebut mengamati dari jauh. Di dalam hati terpikir untuk memberikan sekedar tambahan uang bensin bagi mereka. Begitu kami masuk mobil, tukang parkir masjid datang mendekat. Dia bertanya apa yang dibicarakan tadi. Saya ceritakan apa yang saya dengar dari mereka dan seketika dia memberikan kode “jangan” dengan tangan. Saya coba gali informasi lebih lanjut dan teryata rombongan tersebut sering mampir ke masjid ini Seminggu bisa dua kali. Nah … Alhamdulillah, ternyata ini modus minta-minta gaya baru 🙂

Belakangan kami tahu bahwa modus ini memang sering dipakai dan yang disasar adalah kendaraan luar kota seperti Jakarta atau Bandung. Baru tahu saya.

Note: Gambar Masjid adalah ilustrasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s