Let It Go

“Buang yang jelek, ambil yang baik”

Candaan itu sering dilontarkan ketika kita akan pergi sholat Jum’at. Maksudnya kalau punya sandal atau sepatu sudah jelek, itu kesempatan untuk tukar sepatu. Itu lucu kalau bukan kita korbannya!

Hari ini saya jadi korban “sampling” candaan itu. Sepasang sepatu saya -sudah lebih dari 2 tahun jadi menurut saya sudah tidak terlalu kelihatan bagus- tidak bisa saya temukan ketika saya selesai sholat. Dicari di sekitar, ditunggu, akhirnya ya sudahlah … pinjam sandal dan mesti belanja sepatu.

Ambil hikmahnya saja, mungkin sepatu saya lebih berguna bagi pemilik barunya ๐Ÿ™‚

Let it go

Advertisements

Dedication of Life – Soekarno

Saja adalah manusia biasa.ย Saja tidak sempurna.
Sebagai manusia biasa saja tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.
Hanja kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada bangsa.
Itulah dedication of life-ku.
Djiwa pengabdian inilah jang mendjadi falsafah hidupku, dan menghikmati serta mendjadi bekal-hidup dalam seluruh gerak hidupku.
Tanpa djiwa pengabdian ini saja bukan apa-apa.
Akan tetapi dengan djiwa pengabdian ini, saja merasakan hidupku bahagia,- dan manfaat.
Soekarno, 10 September 1966

====

Sejujurnya saya merinding membaca deretan kata-kata yang ada di situ. Begitu dalam maknanya, menusuk hati sanubari yang paling dalam.

Apa yang sudah saya lakukan untuk bangsa ini?

 

Perut “Sakit”

Beberapa hari lalu saya naik shuttle bus untuk pulang ke rumah. Duduk di bangku depan saya adalah seorang ibu muda dengan dua anak balita perempuannya yang amat ceria. Mungkin karena senang diajak naik bus.

Kedua balita itu amat lucu. Mereka berdiri di atas bangku, dan melihat ke belakang. Persis di depan saya jadinya. Mereka saling berbisik, dan tertawa melihat saya. Saya pun kadang ikut tersenyum pada mereka.

Salah satu balita yang sepertinya kakaknya bertanya pada saya,” Om, namanya siapa?” Wuit, hebat nih anak. Bukan anak pemalu pastinya. Gitu pikir saya. “Panggil aja saya Om,” jawab saya. Sambil ketawa-ketawa ia menunjuk kalung name tag saya. “Kok pake ginian, Om? Eh, kok ada fotonya? Bagus ya?” lanjutnya sambil memegang-megang kalung name tag saya. Saya tambah tersenyum.

Eh, anak itu malah pegang perut saya. “Om, perutnya kok gede? Pasti sakit ya?” ****glodhak**** sampai sini saya speechless. Sementara orang-orang di sekeliling pada menahan senyum.

 

Nama Palsu (di Internet)

Sedang rame menyoal keberadaan sebuah account twitter yang secara politik sering dijadikan referensi. Sampai ada yang melaporkan ke Pak Pulisi segala.

Padahal account tersebut tidak jelas punya siapa. Artinya kredibilitasnya pun layak dipertanyakan. Kontent twit nya pun layak dipertanyakan. Yang ditwit itu fakta atau gosip? Mereka selalu bilang punya data sih. Tapi emang ada yang verify?

Kalau saya: kalau account gak jelas, kemungkinan besar yang ada di situ tidak bisa dipertanggungjawabkan. Itu gosip. Itu persepsi. Bukan fakta ๐Ÿ™‚

Di internet orang boleh ngomong apa saja. Memang ada UU ITE, tapi sejak diimplementasikan kok menurut saya orang tetep cuek aja tuh. Ngomong (eh, nulis kali ye) apa aja, forward email/bbm gak jelas, deface website orang, dll. Orang mah sekuler aja. UU ya UU, kita ngenet ya biasa aja ๐Ÿ™‚

#edisinunggumacet

 

Soal Comment di Berita Online

Suka membaca comment yang ada di berita-berita online tidak?

Salah satu keunggulan media berita online dibanding yang versi kertas adalah kemampuannya membangun komunitas pembaca dimana dia memberi ruang untuk interaksi dengan pembacanya baik berupa forum ataupun kesempatan untuk memberikan comment di setiap berita yang ada.

Terus terang, saya suka membaca comment-comment tersebut. Kadang saya takjub bagaimana berita yang sama menimbulkan perspektif yang berbeda. Banyak juga comment yang kasar dan menurut saya tidak pantas diposting tapi banyak juga comment yang bijaksana dan fair (menurut perspektif saya). Tak jarang mereka saling berantem sendiri. Berantem secara maya …. ๐Ÿ™‚

Pengamatan saya juga, tak sedikit yang pakai nama “palsu”. Hmmm, kategori ini nih yang ini biasanya yang suka berkomentar “di luar normal”. Bikin heboh … apapun motivasinya. Perhatiin deh, apalagi ketika jaman pilkada Jakarta. Seru. Semua orang boleh omong apa aja, paling bener dan paling pinter.

Ibarat kita duduk bareng di warung kopi kemudian diskusi membahas suatu berita, tapi jika lawan diskusi kita “ngawur” dan “tidak beretika” ya akhirnya jadi gondok aja kan ya? Kalau di warung kopi kita bisa “toyor” tu kepalanya, tapi kalau di dunia maya? Lah, siapa orangnya aja kita gak tau?

Mungkin mulai besok saya berhenti baca comment-comment itu ya. Bikin gondok aja.

#edisinunggumacet

 

 

 

 

 

Tawuran (Lagi)

Baca berita tawuran antar SMA kemarin jadi miris. Hingga jatuh kurban jiwa seperti itu, apa ya yang dipikirkan si “pembacok”?

Dia kan masih sekolah di situ, jadi masih tiap hari bakal datang ke situ. Kalo liat model anak2 rusuh gitu pasti nongkrongnya juga di sekitar situ, jadi pasti banyak yang kenal sama mukanya. Lah, kalo dia bacok orang di tempat itu juga, terus dia berharap gak ada yang kenal gitu ya? *bingung*

Terus dia pikir dia bisa kabur gitu ya?

Ini mah kalau kata Obelix Asterix : “orang Romawi memang gila-gila” ๐Ÿ™‚

 

 

Bersahabat dengan “Insiden”

Bila duduk di posisi operasional kita selalu dituntut untuk selalu siap dan waspada pada kemungkinan terjadinya “insiden”. Meskipun tentu saja sebelumnya kita mesti mengimplementasikan control-control preventive sepertiย  yang dianjurkan oleh best practice, tapi toh namanya “insiden” ya tetap saja mungkin terjadi!

“Insiden” yang saya maksud di sini adalah peristiwa tidak normal yang mengakibatkan jalannya operasional bisnis terganggu. Bisa karena gangguan seluruh sistem atau pun salah satu sub sistem pendukung operasional bisnis. Misalnya: network down, system down, machine crash, dsb. Atau peristiwa tidak normal yang mengakibatkan kehidupan tiba-tiba berjalan tidak normal. Seperti sakit mendadak, dan lain sebagainya.

“Insiden” mungkin terjadi. Seberapa besar kemungkinan terjadinya bisa diukur -atau diperkirakan. Salah satu alatnya adalah analisa dan manajemen risiko. Saya tidak akan membahas bagaimana melakukan analisa dan manajemen risiko, tapi alat tersebut membantu kita untuk selalu “siap” pada kemungkinan terjadinya insiden.

Meski bisa diukur atau diperkirakan, kita tidak tahu kapan persisnya “insiden” akan terjadi. Karena itu, lebih baik kita berlatih bagaimana kita bereaksi terhadap sebuah “insiden”. Agar dampaknya lebih minimal dan recovery lebih cepat.

Di Jepang misalnya, berdasarkan analisa risiko kemungkinan terjadinya gempa adalah “tinggi” sehingga penduduk dilatih mengenai bagaimana bereaksi apabila terjadi gempa.

Intinya, kita tidak bisa tahu kapan “insiden” itu terjadi, tapi kita bisa berlatih bagaimana bereaksi terhadap suatu “insiden”.

Begitu!

*niru Mario Teguh*
๐Ÿ™‚