film “IRON MAN” menurut saya

Hihi, sepertinya ritual rutin keluarga yang paling dinanti-nantikan anak-anak saya adalah nonton film Superhero di bioskop. Lha iya, mentang-mentang orang tuanya hobi koleksi action figure superhero DC dan Marvel, maka mereka pun familiar dengan Justice League of America, SHIELD, The Hulk, Batman, Spiderman dan yang lain-lain itu. Nah, kemarin, kami sekeluarga nonton film IRON MAN -salah satu tokoh besutan Marvel.

Adalah Tony Starks, sosok ganteng, pengusaha senjata canggih, kaya dan pinter banget sehingga jadi role model (or celebrity ya?) yang tertembak oleh lawan (dengan senjata ciptaannya sendiri) -somewhere di middle east- sehingga jantungnya harus digantikan oleh “mesin” yang terbuat dari reaktor mini. Untuk dapat melarikan diri, dengan bantuan tawanan lain (Yinsen), ia menciptakan “robot super” yang bisa terbang dan mengeluarkan senjata macem-macem. Pengalaman selama disekap membuat matanya terbuka bahwa senjata hanya akan mengakibatkan kehancuran sehingga ia perlu melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Maka lahirlah IRON MAN!

Tony Stark diperankan oleh Robert Downey Jr, Gwyneth Palrow sebagai P.A-nya Tony, dan Jeff Bridges sebagai Obediah, tokoh antagonis di film ini.

Secara keseluruhan film ini cukup menghibur meski dari segi teknologi film “tidak terlalu mengejutkan”. Mungkin karena kalah dulu dengan “Transformer” ya … sehingga saya ngga terlalu kagum dengan teknik robot-robotan seperti itu. Dari segi seru-seruan (saya tirukan kata-kata anak-anak saya aja deh), kalah seru dari Transformer yang robotnya sudah keluar dan berantem kurang dari lima belas menit 🙂

Kalau Anda pernah beli DVD Iron Man yang kartun, film ini dibuat beda. Yang versi kartun, Tony Stark terluka dan terpaksa dioperasi di China/Tibet, bukannya di Timur Tengah. Musuhnya juga penyihir sakti Mandarin bukannya robot Obediah. Well, tapi suka-suka Stan Lee aja deh … 🙂

Stan Lee juga sempat muncul sebagai cameo. Wah, jadi kebiasaan aja nih …

Oya, film ini dirating dewasa, jadinya beware kalo mau ngajak anak-anak. Beberapa kali saya terpaksa nutup mata mereka.

Satu lagi superhero dari Marvel. Saya tunggu The Incredible Hulk!

Score Saya: 3,5 dari 5

SUPERMAN RETURNS 2006: MY VIEW

Meski bukan Superman freak, malem minggu kemaren akhirnya tersempatkan untuk nonton film yang ditunggu-tunggu: yep, Superman Returns! Penasaran banget pengen liat seperti apa film garapan Bryan Singer (X-Men 1 & 2) ini bila dibandingkan dengan Batman yang sudah return tahun lalu atau film super hero lainnya: X-Men 3: The Last Stand, misalnya. Konon, Bryan Singer lebih tertarik dengan project Superman Return ini daripada menggarap X-Men 3 sehingga secara kebetulan dia ‘bertukar tempat’ dengan Brett Ratner (sutradara X-Men 3) yang sebelumnya dipercaya menggarap project kembalinya si manusia baja ini.

Superman – the movie pertama kali muncul di layar lebar tahun 1978 hasil besutan sutradara Richard Donner yang memperkenalkan Christopher Reeve sebagai Superman. Sebelumnya, versi televisi telah muncul di era 1951-1957 diperankan oleh George Reeves.

Pakem

Kesan pertama, Bryan Singer sepertinya tidak ingin merubah ‘pakem’ yang sudah ada pada film-film Superman terdahulu. Theme song dan crystal font (saat opening title) tetap dipertahankan, hanya diperbaharui dengan sentuhan modern. Untuk kostum, overall lebih bagus dari yang dulu;
perubahan terlihat pada bahan yang dipakai –sayapnya dari kulit, euy! Kota Metropolis diset jadi kota modern –mesti ngga futuristik, seperti penggambaran Gotham di Batman Returns. Smallville ngga banyak diceritakan, hanya muncul di awal film saat Superman balik ke bumi. Itupun cuma rumah Martha Kent dan ladang2 Smallville.

Special Efek? Kalau boleh jujur, jangan berharap banyak! Terbang secepat angin, sinar mata laser, tiupan es, kebal peluru, atau angkat-angkat pesawat … bukannya dulu juga sudah ada. No breakthru, kok! Sam Raimi –sutradara Spiderman- IMHO malah lebih berhasil melukiskan gerakan
melenting-lenting Spiderman di antara Skyscraper!

Superman diperankan oleh Brandon James Routh -yang konon seorang Superman freak dan pernah menang kontes Helloween di mana saat itu dia pakai kostum Superman- memang punya face yang ‘senada’ dengan Christopher Reeve. Mirip!

Lex Luthor diperankan oleh Kevin Spacey. Sekilas IMHO penggambaran karakternya dibuat mirip dengan Lex Luthor pas jaman Gene Hackman dulu. Pas!

Lois Lane diperankan Kate Bosworth, nah yang ini penggambaran karakternya beda dengan Lois Lane jaman Margot Kidder dulu! Mungkin karena digambarkan sudah punya anak dan boyfried –istilahnya pro-longed engagement 😉 sehingga memang jadinya beda banget.

Cerita Singkat
(warning: buat yang belum nonton silakan skip this part)

…….
Dilukiskan si manusia baja kembali ke bumi setelah 5 tahun menghilang secara misterius. Lois Lane telah menjadi ibu, sementara musuh abadinya Lex Luthor terpaksa dibebaskan dari hukuman karena Superman tidak hadir di sidang pengadilan.

Cerita lebih berkisar tentang pergulatan perasaan Superman terhadap Lois Lane, dan juga sebaliknya. Dan tentu saja dibumbui perjuangan Superman untuk menggagalkan ide gila Lex Luthor yang berusaha menghadirkan replika Krypton di bumi.

Ada kejutan kecil … which I don’t like the idea of it, yang ngga seru kalau diceritakan di sini.

Dari segi cerita kepahlawanan, satu hal yang amat mengganjal adalah IMHO, adegan aertarungan/pembalasan Superman ke Lex Luthor mestinya diceritakan dan perlu dibuat dramatis –seperti misalnya pertarungan hidup mati Obi Wan dan Anakin Skywalker di Star Wars, atau pertarungan Spiderman dengan Dr. Oct. Penonton kan menunggu itu … sesuatu yang membuat penonton berdiri dan tepuk tangan saat jagoannya menang!

Kesimpulan

Seperti juga Spiderman dan Batman, Superman juga digambarkan lebih ‘manusiawi’ …. Bisa jatuh cinta, patah hati, kesepian dan juga hampir mati. Tapi selain sisi kemanusiaan yang berhasil diangkat oleh Bryan Singer, sisi dramatisasi heroisme-nya kurang berhasil digarap. Hei, jangan lupa … kita kan nonton film Superman!

Secara keseluruhan, film ini masih layak tonton. Meski belum 5 bintang! Jadi penasaran, kira2 Superman seperti apa kalau sutradaranya jadi Quentine Tarantino

Star Wars III – Revenge of the Sith

Asli, ini film kedua yang paling pengen gw tonton tahun ini -setelah Batman Begins !
Penasaran banget liat metamorfosis Anakin Skywalker ke Darth Vader dan siapa sih Lord of the Sith yang selalu pakai kerudung hitam itu.

Setelah ‘kelewat’ di bioskop, sabar menunggu DVD bajakan yang ‘good quality’, akhirnya minggu kemaren dapat di ITC Ambass. Fiuh …

Overall rating, gw kasih “five stars” deh … seru banget !
Adegan terbaik menurut gw adalah saat adegan pertempuran Anakin vs. Obi Wan Kenobi di tengah2 aliran lava, di akhir film. Benar2 klimaks …
Selain itu, tokoh Anakin kelihatan cukup berhasil dan “seimbang” dengan Padme. Ngga seperti seri I dan II, yang IMHO pemerannya terlalu muda dibanding pasangannya. Penyebab kekecewaan Anakin terhadap Orde Jedi, pergulatan batin yang dialaminya yang menyebabkan dia berpaling ke ‘Dark Side’ bisa diperankan dengan baik.

Pertarungan antara Master Yoda dan Cancellor Palpatine a.k.a Lord of the Sith juga seru.

Pokok’e layak tonton/beli.

May the force be with you.