SNMPTN “502 Bad Gateway”

Terus terang seminggu ini saya ikut terganggu dengan performance sistem penerimaan mahasiswa baru PTN (https://web.snmptn.ac.id) yang dilaksanakan melalui online secara serentak. Mungkin karena tahun ini kedua anak saya -si kembar- mengalaminya sehingga sebagai ortu saya ikutan was-was :-). Meski saya dengar tahun-tahun sebelumnya sebenarnya kejadiannya juga seperti ini.

Saya post pengalaman saya (baca=keluhan) ini melalui twitter dan grup, dan eh ternyata .. banyak rekan senasib. Sebagai ortu yang was-was maksudnya. Bahkan ada ortu yang sampai minta ijin anaknya tidak bisa hadir ke sekolah karena semalaman anaknya mencoba akses hingga jam 3 pagi! Lah ini kan kontra- produktif dan istilahnya “defeat its purpose” dengan pelaksanaan pendaftaran secara online itu sendiri. Nggak efisien dan kok user yang dikorbankan?

Sebagai info, semula periode pendaftaran adalah 4-14 Februari 2019 dan karena banyak yang belum berhasil daftar karena gagal akses maka periode pendaftaran diperpanjang 2 (dua( hari hingga 16 Februari 2019

https://www.jawapos.com/pendidikan/13/02/2019/pendaftaran-snmptn-diperpanjang-cek-dulu-aturan-mainnya

https://edukasi.kompas.com/read/2019/02/13/20210541/antisipasi-perpanjangan-snmptn-2019-ltmpt-tambah-10-server

Meski sudah diperpanjang, hingga tulisan ini saya tulis (15/2) jika saya pantau linimasa twitter di tagar #SNMPTN2019 #snmptn masih banyak calon pendaftar yang frustasi karena belum berhasil akses. Beberapa saran/solusi dari panitia seperti pembagian giliran ganjil genap, menyarankan untuk akses di luar jam sibuk (misalnya tengah malam), permintaan agar yang sudah finalisasi segera logout … sebenarnya malah menunjukkan bahwa panitia penyelenggara tidak siap dengan rencana cadangan/contingency plan untuk hal yang sebenarnya sudah terjadi bertahun-tahun. Atau jangan-jangan, langkah-langkah inilah contingency plan mereka?

Selain kerahasiaan dan integritas, faktor ketersediaan (availability) adalah menjadi salah satu faktor dari keamanan informasi … dengan kegagalan performance seperti ini maka bisa dianggap bahwa salah satu pengendalian guna pengelolaan risiko tidak efektif berjalan. Bila dirunut ke belakang, melihat gejala performance seperti ini bisa saja faktornya adalah soal tata kelola TI seperti manajemen proyek, pengelolaan pengembangan aplikasi/sistem (misalnya disain aplikasi/sistem), perencanaan kapasitas, hingga soal delivery termasuk didalamnya soal contingency plan. Tentu perlu audit lebih detil untuk benar-benar dapat menemukan apa yang sebenarnya terjadi.

Yang perlu dijadikan concern juga adalah budaya untuk memposisikan user (baca=publik) sebagai pihak yang selalu harus menyesuaikan diri. Di negeri ini, masyarakat kita memang “dibiasakan” untuk selalu maklum. Tapi kata orang jawa “ngono yo ngono ning ojo ngono”. Budaya ini mestinya harus diubah. Kasarnya, “lah elu yang salah kelola kok user yang diminta menyesuaikan diri”. Menyalahkan user tentu bukanlah hal yang bijaksana, apalagi jika sebagai penyelenggara masih banyak bolong di sana-sini. Minimal minta maaf lah.

Namanya sistem selalu ada peak, nah ini yang perlu diantisipasi. Dengan disain dan implementasi yang lebih baik misalnya. Toh, Google bisa. Facebook bisa. Mobile Legend bisa. Membandingkan dengan yang terakhir sebenarnya bikin nyesek 😦 Lha ini server yang nilainya harusnya lebih penting dari sebuah game online!

Sebaik-baiknya rencana tentu ada risiko kegagalan, karena banyak faktor. Tapi tentu ini bisa dianalisa. Makanya perlu punya contingency plan. Menambah waktu pendaftaran 2 hari tapi root cause nya belum beres, tentu tidak akan memecahkan masalah. Itu menurut hemat saya.

Setelah badai ini berlalu, tentu semua akan lupa dan kembali ke kesibukan masing-masing. Seperti biasa, baru tahun depan, kita ribut lagi. Seperti ini. Terus gimana donk?

Yaa menurut saya, lakukan audit saja!

 

 

 

 

 

Advertisements

Bersahabat dengan “Insiden”

Bila duduk di posisi operasional kita selalu dituntut untuk selalu siap dan waspada pada kemungkinan terjadinya “insiden”. Meskipun tentu saja sebelumnya kita mesti mengimplementasikan control-control preventive seperti  yang dianjurkan oleh best practice, tapi toh namanya “insiden” ya tetap saja mungkin terjadi!

“Insiden” yang saya maksud di sini adalah peristiwa tidak normal yang mengakibatkan jalannya operasional bisnis terganggu. Bisa karena gangguan seluruh sistem atau pun salah satu sub sistem pendukung operasional bisnis. Misalnya: network down, system down, machine crash, dsb. Atau peristiwa tidak normal yang mengakibatkan kehidupan tiba-tiba berjalan tidak normal. Seperti sakit mendadak, dan lain sebagainya.

“Insiden” mungkin terjadi. Seberapa besar kemungkinan terjadinya bisa diukur -atau diperkirakan. Salah satu alatnya adalah analisa dan manajemen risiko. Saya tidak akan membahas bagaimana melakukan analisa dan manajemen risiko, tapi alat tersebut membantu kita untuk selalu “siap” pada kemungkinan terjadinya insiden.

Meski bisa diukur atau diperkirakan, kita tidak tahu kapan persisnya “insiden” akan terjadi. Karena itu, lebih baik kita berlatih bagaimana kita bereaksi terhadap sebuah “insiden”. Agar dampaknya lebih minimal dan recovery lebih cepat.

Di Jepang misalnya, berdasarkan analisa risiko kemungkinan terjadinya gempa adalah “tinggi” sehingga penduduk dilatih mengenai bagaimana bereaksi apabila terjadi gempa.

Intinya, kita tidak bisa tahu kapan “insiden” itu terjadi, tapi kita bisa berlatih bagaimana bereaksi terhadap suatu “insiden”.

Begitu!

*niru Mario Teguh*
🙂

Tampilan Baru Facebook (Lagi)

Apakah Anda sudah mencoba (baca: mengaktifkan) fitur terbaru dari Facebook yaitu “Facebook Timeline”? Jika Anda sudah mencobanya, maka halaman Facebook Anda akan berubah menjadi website-look-alike yang berisi “riwayat hidup” interaksi Anda dengan Facebook dari awal perkenalan Anda hingga sekarang. Full disclosure!

Hanya repotnya, sepertinya belum ada opsi untuk mengembalikan tampilan ini menjadi seperti semula.

Seperti biasa, ada yang suka dan ada yang tidak. Bahkan saya baca di sebuah negara, usernya mengumpulkan petisi penolakan fitur ini dan mengancam akan “keluar” dari Facebook.

Anda bisa baca review mengenai Facebook Timeline di sini.

Buat saya, to be frank … agak ngeri juga lihat “ketelanjangan” Facebook Timeline. Bayangkan seluruh posting kita terpampang dari awal perkenalan kita dengan Facebook hingga kini. Belum sempat tes, bagaimana efek setting privacy kita di Timeline.

But the end of the day, the choice is ours. Kalau akhirnya nggak suka, yaaa keluar aja dari Facebook. Gitu aja kok repot 🙂

Indonesia Kecanduan Twitter

Nggak heran kan ya?

Ini sejalan dengan konsumerisme khususnya gadget smart phone. Kebutuhan untuk selalu online. Bangsa yang suka rumpi dan gosip hahaha.

===========

KOMPAS.com – Kartografer media sosial Eric Fischer telah menciptakan peta digital yang dapat digunakan untuk mengetahui gerakan fisik seseorang di Twitter. Hasilnya, Indonesia tampak sebagai salah satu negara paling sibuk di Twitter.

Peta itu menunjukkan kicauan (tweet) dan balasan kicauan (reply tweet). Warna hijau menunjukkan gerakan fisik seseorang, ungu merupakan balasan kicauan dari seseorang dari satu lokasi ke lokasi lain dan putih adalah kombinasi keduanya. Fischer mendapatkan data tersebut dari hasil analisa geotagging di Twitter.

Hasil yang diperoleh dari peta buatan Fischer, lalu lintas (traffic) masuk dan keluar kicauan dari Indonesia dinilai lebih banyak dibandingkan negara lainnya di dunia. Peta ini seakan menegaskan betapa “kecanduan” Twitter di Indonesia sangat kuat.

Hal itu juga didukung oleh sebuah studi di tahun 2010. Riset yang dilakukan ComScore MobiLens selama April – Juni 2010, Indonesia tercatat memiliki penetrasi 20,8 persen dari total penduduk. Indonesia melesat jauh dibandingkan negara tetangga seperti Singapura (13,3 persen) atau Malaysia (7,7 persen). Bahkan Indonesia melampaui Amerika Serikat (11,9 persen).

Sumber :
Mashable.com