Bersahabat dengan “Insiden”

Bila duduk di posisi operasional kita selalu dituntut untuk selalu siap dan waspada pada kemungkinan terjadinya “insiden”. Meskipun tentu saja sebelumnya kita mesti mengimplementasikan control-control preventive seperti┬á yang dianjurkan oleh best practice, tapi toh namanya “insiden” ya tetap saja mungkin terjadi!

“Insiden” yang saya maksud di sini adalah peristiwa tidak normal yang mengakibatkan jalannya operasional bisnis terganggu. Bisa karena gangguan seluruh sistem atau pun salah satu sub sistem pendukung operasional bisnis. Misalnya: network down, system down, machine crash, dsb. Atau peristiwa tidak normal yang mengakibatkan kehidupan tiba-tiba berjalan tidak normal. Seperti sakit mendadak, dan lain sebagainya.

“Insiden” mungkin terjadi. Seberapa besar kemungkinan terjadinya bisa diukur -atau diperkirakan. Salah satu alatnya adalah analisa dan manajemen risiko. Saya tidak akan membahas bagaimana melakukan analisa dan manajemen risiko, tapi alat tersebut membantu kita untuk selalu “siap” pada kemungkinan terjadinya insiden.

Meski bisa diukur atau diperkirakan, kita tidak tahu kapan persisnya “insiden” akan terjadi. Karena itu, lebih baik kita berlatih bagaimana kita bereaksi terhadap sebuah “insiden”. Agar dampaknya lebih minimal dan recovery lebih cepat.

Di Jepang misalnya, berdasarkan analisa risiko kemungkinan terjadinya gempa adalah “tinggi” sehingga penduduk dilatih mengenai bagaimana bereaksi apabila terjadi gempa.

Intinya, kita tidak bisa tahu kapan “insiden” itu terjadi, tapi kita bisa berlatih bagaimana bereaksi terhadap suatu “insiden”.

Begitu!

*niru Mario Teguh*
­čÖé

Advertisements

Tampilan Baru Facebook (Lagi)

Apakah Anda sudah mencoba (baca: mengaktifkan) fitur terbaru dari Facebook yaitu “Facebook Timeline”? Jika Anda sudah mencobanya, maka halaman Facebook Anda akan berubah menjadi website-look-alike yang berisi “riwayat hidup” interaksi Anda dengan Facebook dari awal perkenalan Anda hingga sekarang. Full disclosure!

Hanya repotnya, sepertinya belum ada opsi untuk mengembalikan tampilan ini menjadi seperti semula.

Seperti biasa, ada yang suka dan ada yang tidak. Bahkan saya baca di sebuah negara, usernya mengumpulkan petisi penolakan fitur ini dan mengancam akan “keluar” dari Facebook.

Anda bisa baca review mengenai Facebook Timeline di sini.

Buat saya, to be frank … agak ngeri juga lihat “ketelanjangan” Facebook Timeline. Bayangkan seluruh posting kita terpampang dari awal perkenalan kita dengan Facebook hingga kini. Belum sempat tes, bagaimana efek setting privacy kita di Timeline.

But the end of the day, the choice is ours. Kalau akhirnya nggak suka, yaaa keluar aja dari Facebook. Gitu aja kok repot ­čÖé

Indonesia Kecanduan Twitter

Nggak heran kan ya?

Ini sejalan dengan konsumerisme khususnya gadget smart phone. Kebutuhan untuk selalu online. Bangsa yang suka rumpi dan gosip hahaha.

===========

KOMPAS.com –┬áKartografer media sosial Eric Fischer telah menciptakan peta digital yang dapat digunakan untuk mengetahui gerakan fisik seseorang di Twitter. Hasilnya, Indonesia tampak sebagai salah satu negara paling sibuk di Twitter.

Peta itu menunjukkan kicauan (tweet) dan balasan kicauan (reply tweet). Warna hijau menunjukkan gerakan fisik seseorang, ungu merupakan balasan kicauan dari seseorang dari satu lokasi ke lokasi lain dan putih adalah kombinasi keduanya. Fischer mendapatkan data tersebut dari hasil analisa geotagging di Twitter.

Hasil yang diperoleh dari peta buatan Fischer, lalu lintas (traffic) masuk dan keluar kicauan dari Indonesia dinilai lebih banyak dibandingkan negara lainnya di dunia. Peta ini seakan menegaskan betapa “kecanduan” Twitter di Indonesia sangat kuat.

Hal itu juga didukung oleh sebuah studi di tahun 2010. Riset yang dilakukan ComScore MobiLens selama April – Juni 2010, Indonesia tercatat memiliki penetrasi 20,8 persen dari total penduduk. Indonesia melesat jauh dibandingkan negara tetangga seperti Singapura (13,3 persen) atau Malaysia (7,7 persen). Bahkan Indonesia melampaui Amerika Serikat (11,9 persen).

Sumber :
Mashable.com

Jalan Keluar

Orang bilang, tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Akan muncul titik terang di ujungnya. Kesabaran adalah kuncinya.

Terkadang kita mesti “endapkan” dulu sebuah masalah untuk memberi diri kita/ataupun orang lain untuk menggali ide-ide segar. Kadang sebuah solusi “out of the box” akan muncul sebagai solusi.

Kunci yang lain, berapa lama kita “endapkan” sebelum sebuah keputusan diambil?