IOS 11 – Masih Bisa Pakaikah Perangkat Anda?

Baru-baru ini Apple mengumumkan rencana mengenai dirilisnya OS perangkat mobile terbarunya yakni IOS 11 dalam acara tahunan mereka WWDC17. Seperti biasa, para fans Apple sudah tidak sabar menanti apa saja fitur barunya meski OS ini baru akan resmi dirilis pada sekitar bulan September tahun ini.

Jangan buru-buru bahagia dulu, sebelumnya cek dulu perangkat Anda apakah masuk daftar perangkat yang didukung (atau bisa memakai) IOS 11 sebagaimana dikutip dari http://osxdaily.com/2017/06/06/ios-11-compatible-devices-list/   ini:

Kalau perangkat Anda tidak termasuk, Anda tetap punya pilihan untuk tetap di IOS 10. Tapi jika Anda ingin sekali memakai IOS 11, mungkin Anda perlu menabung mulai sekarang 🙂

Advertisements

Bad Sierra OS Upgrade -near ‘reinstall’ situation :-)

This morning today I just had a bad experience with my MacBook pro. I am using quite old -early 2011- version of MacBook Pro for daily work and so far it is working fine. It is running on Sierra OS and I have no complaint about it until this morning.

I recently received an alert from the system that new software updated available and last week -I think- I did follow the instruction to updated my mac. The update went fine, no problem until this morning. I shut down the machine normally yesterday. But this morning when I try to boot my machine, something strange happened. I cannot find my users to log in! Not only that, I cannot find others users list as well. There were only two blank field where I tried to enter my user name and my password (it is an admin account) and it is not working. Tried to reboot it several times but no luck.

I did some quick research on google and found that some users had experienced this same issues sometimes in year 2016 on Sierra 10.12.2. That’s weird considering that I only have this problem on recent Sierra update -10.12.5 last week end!

There were some recommendations provided on the internet or apple support. After read it thoroughly -well to reinstall the OS is my very last option- I decided to do this recommendation. At least I try it first 🙂

.

 

To reset the password for a user in recovery mode, and to keep data, you may type ‘resetpassword‘ into the terminal which can be found by clicking on the top menu under utilities

Note that while doing the password reset steps, you will be asked to provide your iCloud password.

I never tried to use the mac recovery mode before. Basically during the booting, you have to press Cmd-R buttons and you will have the recovery screen. There you can choose your recovery options including recovery from backup (Mac call it as “Time Machine”).

So I followed the instruction and did the “resetpassword” steps, restart and try my new password but still not working. After some more booting, and finally it works!

Not sure what’s really happened, but some said that the update has affected the user account folder on mac.

I have used OSX since Mountain Lion in 2011. Based on my experience, the worst version is Maverick. I think I wrote about that in this blog also. After some versions upgrade, this is the first problem I had. Quite disappointing though.

But I guess it is still better that Windows, I think 🙂

Ingin Tenang? Lakukan Patching!

Tulisan ini sebenarnya masih terkait tulisan saya sebelumnya mengenai serangan malware ransomware WannaCry. Terus terang tulisan saya tersebut lebih ditujukan kepada tim IT yang ada di organisasi/perusahaan karena menurut saya dampak ransomware akan lebih besar  bagi organisasi/perusahaan.  Akan tetapi dari pantauan dan interaksi saya di beberapa grup instant messaging ataupun media sosial ketika kehebohan WannaCry terjadi ternyata keresahan atau kekuatiran (akan terinfeksi) pun melanda para pengguna komputer rumahan/pribadi.

WannaCry-Windows7

WannaCry menyerang komputer yang tidak terlindungi dari kelemahan sistem remote code execution pada SMBv1 yang ada di sistem Microsoft sebagaimana dipublikasikan pada Microsoft Security Bulletin MS17-010 Critical, pada tanggal 14 Maret 2017.  Jadi di sini kata kuncinya adalah sudah atau tidaknya sebuah komputer terupdate dengan pembaharuan program (patch) dari Microsoft ini.  Tapi rupanya terminologi Patch atau update masih terdengar asing bagi kebanyakan pengguna. Rata-rata mereka tidak tahu atau bingung bagaimana melakukan patch sistem operasi mereka.

Jadi, sebenarnya apa sih Patch itu?

Menurut wikipedia, ” A patch is a piece of software designed to update a computer program or its supporting data, to fix or improve it.[1] This includes fixing security vulnerabilities[1] and other bugs, with such patches usually called bugfixes or bug fixes,[2] and improving the usability or performance

Kalau bahasa gampang saya, karena software dibuat oleh manusia maka tidak ada software yang sempurna. Baik di sisi fungsionalitas maupun sisi keamanan. Karenanya si pembuat software merasa perlu untuk melakukan perbaikan softwarenya. Perbaikan itu berupa patch yang harus dipasang/install ke software tersebut. Konteks patch yang saya maksud dalam tulisan saya ini adalah patch yang terkait dengan keamanan sistem.

Di dunia ini selalu ada dua sisi yang berseberangan. Dalam konteks keamanan sistem, di satu sisi ada sekelompok orang yang melakukan riset dan study untuk menemukan kelemahan sebuah sistem dan di sisi yang lain, si pembuat software harus menutup kelemahan yang telah ditemukan. Hampir setiap hari ditemukan kelemahan atau biasa disebut vulnerability baru yang dipublikasikan. Contoh situs yang mempublikasikan vulnerability tersebut adalah milik NIST di https://nvd.nist.gov/home ataupun https://www.cvedetails.com.

Berdasarkan vulnerability yang ditemukan, si pembuat software harus segera membuat program untuk menutupi kelemahan tersebut. Nah, serunya ternyata tidak hanya pembuat software yang mempergunakan vulnerability ini. Ada juga sekelompok orang -mungkin bisa disebut sebagai hacker– yang membuat juga program yang memanfaatkan kelemahan sistem ini untuk kepentingan tertentu. Ini yang biasa disebut dengan Exploit.

Menurut wikipedia, an exploit (from the English verb to exploit, meaning “using something to one’s own advantage”) is a piece of software, a chunk of data, or a sequence of commands that takes advantage of a bug or vulnerability in order to cause unintended or unanticipated behavior to occur on computer software, hardware, or something electronic (usually computerized). Such behavior frequently includes things like gaining control of a computer system, allowing privilege escalation, or a denial-of-service (DoS or related DDoS) attack

Ibaratnya, seseorang menemukan bahwa pada jendela sebuah rumah tidak didisain dengan baik sehingga dengan sebuah cara/alat tertentu jendela itu akan dapat dibuka dan seseorang dapat masuk ke dalam rumah tersebut. Kemudian, temuan itu dipublikasikan. Jelas disebutkan alamat rumahnya dan jendela yang sebelah mana. Berdasarkan temuan tersebut, tentu si pemilik rumah harus memperbaiki disain jendela rumahnya untuk mencegah orang menyalahgunakan kesalahan disain tersebut. Nah, pada saat yang sama ada juga orang lain yang membuatkan alat untuk membuka jendela tersebut.

Di sini si pemilik rumah (pembuat software) harus secepat mungkin memperbaiki kelemahan disain jendela tersebut agar rumahnya tidak dimasuki orang!

Zero-day Vulnerability

Dalam kondisi sebuah exploit telah tersedia secara publik atau sebuah serangan telah terjadi, sementara patch untuk memperbaiki kelemahan sistem belum tersedia (disediakan oleh si pembuat software) maka kondisi ini dikenal dengan istilah Zero-day Vulnerability.

Menurut Wikipedia, A zero-day (also known as zero-hour or 0-day or day zero) vulnerability is an undisclosed computer-software vulnerability that hackers can exploit to adversely affect computer programs, data, additional computers or a network.[1]

Jadi, apa yang harus dilakukan? 

Kali ini saya tidak membahas proses pemeliharaan untuk organisasi atau perusahaan dimana tentu sudah ada tim IT yang secara khusus bertugas memelihara sistem termasuk keamanannya. Kendala-kendala dalam proses patch telah saya singgung di tulisan saya terdahulu. Fokus tulisan saya kali ini adalah untuk pengguna komputer personal/rumahan.

Pengkinian software baik aplikasi maupun sistem operasi (Windows, Linux, MacOSX, Android, IOS) harus rutin dilakukan. Sebenarnya, secara rutin pembuat software maupun sistem operasi akan melakukan pembaharuan software atau sistem operasi melalui sistem mekanisme update yang sudah tersedia di sistem. Apabila komputer terhubung ke internet maka biasanya akan muncul notifikasi atau pemberitahuan kepada pengguna bahwa sebuah update atau patch telah tersedia untuk diunduh dan dipasang.  Pengguna tinggal mengikuti instruksi yang tersedia.

Dalam kasus ransomware WannaCry, sebenarnya patch sudah tersedia di bulan Maret 2017 dan insiden/attack terjadi di bulan Mei 2017. Jadi dalam kenyataannya banyak pengguna yang tidak mengindahkan notification/pemberitahuan tersebut dan tidak melakukan patch sehingga komputer mereka berisiko terinfeksi malware tersebut.  

Proses sistem update dapat dilakukan secara otomatis selama komputer terkoneksi ke internet. Contoh bagaimana melakukan konfigurasi sistem agar dapat melakukan update secara otomatis dapat dilihat di sini –> http://www.wikihow.com/Enable-Automatic-Updates. Untuk sistem operasi Linux dan MacOSX umumnya sudah didisain by default untuk menerima notifikasi/alert mengenai adanya update. Sekali lagi dengan catatan selama terkoneksi ke internet!

Jadi, sebenarnya mudah .. pastikan saja komputer Anda sudah terkonfigur secara otomatis untuk menerima update. Dan apabila ada informasi bahwa update telah tersedia, tinggal klik dan ikuti langkah-langkahnya. Beberapa update perlu restart agar berfungsi. 

Catatan penting

Umumnya pembuat software HANYA menyediakan update untuk aplikasi atau sistem operasi yang masih dalam masa dukungan mereka.  Misalnya, secara resmi Microsoft sebenarnya telah mencabut dukungan teknis (termasuk penyediaan patch) untuk Windows XP sejak April 2014. Rilis Ubuntu Linux akan mendapatkan dukungan paling tidak selama 9 (sembilan) bulan sejak dirilis, kecuali untuk versi LTS (Long Time Support) yaitu selama 5 (lima) tahun. Konsekuensi apabila Anda masih mempergunakan versi aplikasi atau sistem operasi yang sudah tidak didukung adalah tentu Anda harus melakukan upgrade aplikasi atau sistem operasi Anda ke versi yang lebih tinggi.

Sebagai penutup, menurut saya berikut adalah beberapa kendala/hambatan yang mengakibatkan proses patch tidak berjalan baik bagi pengguna komputer personal/rumahan:

  • Kesadaran pengguna terhadap pentingnya update/patch
    Ketidakpedulian atau ketidaktahuan masih jadi faktor penting. Ini jadi tantangan para praktisi keamanan informasi untuk menyebarkan kesadaran keamanan komputer.
  • Koneksi internet
    Harus diakui bahwa ini masih jadi kendala di Indonesia dimana penetrasi internet belum merata ke seluruh wilayah Indonesia. Terjangkaupun belum tentu mendapatkan koneksi dan kecepatan yang stabil. Terkadang memang proses patch memerlukan waktu yang lumayan lama apabila pengguna baru pertama kali melakukan patch (karena jumlah patch yang perlu didownload lumayan banyak atau koneksi yang lemot). Akan tetapi bagi yang berada di kota-kota yang sudah terjangkau internet yang relatif stabil dan cepat, harusnya hal ini tidak menjadi masalah.
    Apabila komputer dalam posisi off-line, harus diupayakan metode lain agar komputer juga dapat selalu mendapatkan patch/update secara teratur. Misalnya melakukan download patch dari warnet ke dalam media CD atau usb drive, kemudian melakukan instalasi manual ke komputer off-line tersebut.
  • Sistem Operasi Bajakan (Pirated),
    Saya tidak punya statistik pengguna OS bajakan di Indonesia, tetapi saya yakin jumlahnya masih cukup banyak. Untuk menghindari terdeteksinya OS bajakan yang mereka pakai, fitter otomatis update yang ada di OS sengaja dimatikan.  Saya tidak punya solusi bagi mereka kecuali menyarankan untuk mempergunakan software original atau berpindah ke Linux 🙂
  • Kelemahan Sistem Operasi itu sendiri
    Bagi pengguna awam, melakukan konfigurasi sederhana pun adalah hal yang membingungkan. Sehingga seharusnya pembuat aplikasi atau sistem operasi HARUS secara default membuat aplikasi atau sistem operasinya terupdate secara otomatis. Seperti halnya Linux dan MacOSX, sejak Windows 10 Microsoft sudah secara default melakukan hal ini.

Secara konsep, tulisan ini juga applicable untuk mobile OS seperti Android, Windows Phone ataupun IOS. Seperti halnya komputer, mobile device pun memiliki risiko yang sama dengan komputer.

Jadi kalau Anda tidak mau panik ketika ada serangan, mulai sekarang update komputer Anda secara teratur. Percayalah, there will be more malware and threat to come!

—-

Tulisan ini dibuat dalam rangka ikut berpartisipasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya di bidang keamanan informasi.

 

 

 

 

 

 

“WannaCry” – Mimpi Buruk di Akhir Pekan

Akhir minggu ini rupanya bukanlah week end biasa khususnya bagi orang yang bekerja di bidang IT Infrastruktur ataupun IT Security. Sejak pagi, linimasa di Twitter sudah diramaikan dengan berita tentang terjadinya serangan ransomware secara massive di banyak negara. Mengutip dari cnn.com serangan terjadi lebih 75.000 serangan di 99 negara. Masih dari berita yang sama, 16 National Health Services (NHS) di UK terkena dampaknya sehingga berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan, Spanish Telecomm Company Telefonica (SEF) dan FedEx juga dilaporkan terdampak serangan tersebut.

Siangnya, portal berita terkemuka di Indonesia pun memberitakan bahwa sebuah Rumah Sakit di Jakarta terkena serangan di sistem antriannya. Disusul berita-berita lain yang mengkonfirmasi bahwa Indonesia termasuk dalam 99 negara yang terinfeksi. Serangan ini begitu massive seperti digambarkan pada peta yang dikutip dari rt.com dimana hampir merata ke seluruh dunia. Ya, “WannaCry” telah menjadi serangan ransomware terbesar dalam sejarah hanya dalam hitungan jam!

Serangan ransomware yang diberi nama “WannaCry” ini seolah menjadi mimpi buruk di akhir minggu, meski dampak yang sesungguhnya baru akan terlihat di hari Senin pagi mengingat perkantoran baru akan buka dimana banyak komputer akan dinyalakan dan terhubung ke jaringan.

Ransomware menurut wiki adalah  a type of malicious software designed to block access to a computer system or data until a ransom is paid. Ransomware tergolong malware yang akan melakukan enkripsi pada data-data korbannya. Untuk membuka enkripsi tersebut korban harus menyerahkan sejumlah uang kepada pembuat malware tersebut sebagai tebusan guna mendapatkan “kunci” untuk melakukan dekripsi pada data-data yang terenkripsi tersebut.  Dalam kasus “WannaCry” korban diminta untuk membayar tebusan US$300 dalam bentuk bitcoin. Dalam publikasi symantec.com “WannaCry” akan mengenkripsi file-file (termasuk file gambar dan microsoft office) dan kemudian menambahkan ekstensi .WCRY pada akhir nama file.

“WannaCry” memanfaatkan kelemahan sistem remote code execution pada SMBv1 yang ada di sistem Microsoft sebagaimana dipublikasikan pada Microsoft Security Bulletin MS17-010 Critical, pada tanggal 14 Maret 2017.

Munculnya “WannaCry” dikaitkan dengan dibocorkannya powerful hacking tools milik National Security Agency (NSA) oleh Group Hacker yang bernama Shadow Broker pada pertengahan April 2017 lalu. Hacker tersebut mempublikasikan exploit yang berguna untuk memanfaatkan kelemahan pada sistem operasi Windows. Exploit ini dikenal dengan sebutan Project EternalBlue. Pihak Microsoft menjelaskan bahwa daftar exploit tersebut telah diperbaiki pada patch bulan Maret 2017.

Well, we live in a powerful global world !

Dalam waktu singkat seluruh praktisi keamanan dunia bereaksi. Microsoft pun merilis patch untuk Windows XP, Windows 8 dan Windows Server 2003. Note bahwa Microsoft sebenarnya telah menghapuskan support untuk platform-platform tersebut.

Melalui twitter misalnya, solusi sementara dilontarkan untuk  membuka koneksi ke domain tertentu sehingga malware berhenti!  Per tulisan ini dibuat, solusi ini masih efektif untuk menghentikan serangan/menonaktifkan payload.

Secara lokal, ID-SIRTII selaku penanggungjawab kegiatan tanggap apabila terjadi insiden keamanan informasi memberikan beberapa tips sebagaimana dikutip dari detik.com sbb:
1. update security pada sistem operasi windows yang digunakan dengan menginstal Patch MS17-010 yang telah dikeluarkan oleh Microsoft, melalui tautan ini.
2. Jangan mengaktifkan fungsi macros
3. Non aktifkan fungsi SMB v1
4. Lakukan pemblokiran pada akses port 139/445 dan 3389
5. Backup file penting yang ada di komputer pada lokasi lain

Keamanan sistem informasi adalah proses yang terus menerus. Tanpa manajemen sistem keamanan informasi (information security management system) yang baik maka organisasi akan selalu berada di posisi reaktif dan selalu berada di belakang insiden.

Beberapa catatan penting terkait insiden keamanan informasi besar hari ini adalah:

Patch and Patch and Patch!

Salah satu proses dalam dunia keamanan informasi adalah memastikan bahwa setiap sistem selalu dalam kondisi aman. Termasuk didalamnya adalah melakukan pemeliharaan rutin pada sistem berupa patching (pemutakhiran sistem) untuk memastikan bahwa tidak terdapat kelemahan pada sistem. Faktor penting dalam proses patching adalah kedisiplinan dari tim IT karena proses ini harus dilakukan secara terus menerus. Identify Vulnerability – Test Patch – Deploy Patch – Monitoring, begitu seterusnya. Untuk memperkuat keyakinan, perlu dilakukan juga vulnerability assessment teratur dari pihak independen. Dalam standar keamanan sistem informasi (ISMS) ISO 27002  disyaratkan bahwa Management of Technical Vulnerabilities harus dilakukan (clause 12.6.1).

Permasalahan umum yang sering menjadi kendala dalam proses patching adalah:

  • Tersedianya automated system untuk melakukan patching
  • Variasi sistem operasi dan aplikasi
  • Jumlah sistem dalam environment IT
  • Jumlah sumber daya IT yang dialokasikan untuk proses patching
  • Kesadaran pengguna

Back Up, Back Up and Back Up! 

Ransomware meminta korban untuk membayar sejumlah tebusan guna mendapatkan “kunci” enkripsi. Apabila tidak dibayar, dalam periode tersebut grup hacker akan menghapus kunci tersebut sehingga otomatis file tersebut tidak akan bisa dibuka untuk selamanya.

Harus disadari bahwa tidak semua orang/perusahaan mau membayar tebusan kepada grup hacker. Sehingga satu-satunya cara untuk mendapatkan file-file kembali adalah dengan melakukan pemulihan dengan cara restore dari file backup. Namun proses restore tidak akan dapat dilakukan apabila proses backup tidak pernah dilakukan atau tidak dilakukan secara teratur!

Standar keamanan informasi (ISMS) ISO 27002 mengharuskan untuk dilakukan backup untuk menghindari hilangnya data (clause 12.3.1).

User Awareness – Human is the weakest link

Umumnya malware masuk melalui email, usb-port ataupun peramban (browser). Sekalipun tim IT telah melakukan proteksi sistem dengan mempergunakan teknologi, manusia tetap merupakan kelemahan terbesar karena dialah yang berinteraksi dengan email, mempergunakan usb-drive dan melakukan selancar di dunia maya melalui peramban. Sehingga terhadap pengguna komputer perlu diinformasikan risiko-risiko keamanan informasi yang berhubungan dengan aktifitasnya.

Standar keamanan informasi (ISMS) ISO 27002 mengharuskan untuk dilakukan kegiatan pelatihan dan pendidikan mengenai keamanan informasi (clause 7.2.2).

Management of Security Incident 

Apabila sebuah insiden keamanan informasi terjadi seperti hari ini, maka yang diperlukan adalah kesiapan organisasi dalam menangani sebuah insiden. Ini akan menentukan seberapa luas dampak insiden bisa diminimalisir, seberapa cepat insiden bisa ditangani dan berapa banyak data dapat dipulihkan. Dalam banyak organisasi, biasanya Information Security Manager juge bertugas sebagai kordinator dari Security Incident Response Team.

Standar keamanan informasi (ISMS) ISO 27002 mengharuskan organisasi untuk memiliki manajemen insiden keamanan informasi (clause 16.1). Secara lebih spesifik, prinsip manajemen insiden tertuang dalam ISO 27035 yang secara umum meliputi tahapan berikut:

  1. Plan and Prepare
  2. Detection and Reporting
  3. Assessment and Decision
  4. Responses, termasuk Post Incident Activity
  5. Lesson Learnt

Hingga tulisan ini dibuat, proses penyebaran “WannaCry” masih berlangsung dan para pegiat keamanan informasi beserta organisasi yang terkena dampak masih berjuang untuk meminimalkan dampaknya. Mari berharap agar “badai” ini lekas berlalu.

Tapi pertanyaan pentingnya adalah,”Are you ready for the next?

Karena percayalah, there will be more to come.

Shutdown Issue on Mavericks

Agree with most of opinion that Mavericks is the most not stable or buggy version of Mac OS I’ve ever used. I have experienced some issues but the worst I think it’s related to shutdown. I think this is supposed to be the easiest function in the OS, but hell no. Most cases when I enter shutdown command the system is not responding. It forced me to press the shutdown key/button to make my mac off. And that’s bothering me.

Trying google find this article that may help me. Well … let’s try. I will let you know the result.

http://www.wired.com/2013/10/mavericks-issues-and-fixes/#slideid-234671

Ubuntu One – it’s ended

On April 5, 2014 I got this notification. Well … to be frank I have not use it for quite long time. So what I need to do is to check the content and download them all. But … what is the password? 😦

===========
Hi,

We are writing to you to notify you that we will be shutting down the
Ubuntu One file services, effective 1 June 2014. This email gives
information about the closure and what you should expect during the
shutdown process.

As of today, it will no longer be possible to purchase storage or music
from the Ubuntu One store. The Ubuntu One file services apps in the Ubuntu,
Google, and Apple stores will be updated appropriately.

As always, your content belongs to you. You can simply download your files
onto your PC or an external hard drive. While the service will stop as of
1 June, you will have an additional two months (until 31 July 2014) to
collect all of your content. After that date, all remaining content will
be deleted.

If you have an active annual subscription, the unused portion of your fees
will be refunded. The refund amount will be calculated from today’s
announcement.

We know you have come to rely on Ubuntu One, and we apologise for the
inconvenience this closure may cause. We’ve always been inspired by the
support, feedback and enthusiasm of our users and want to thank you for
the support you’ve shown for Ubuntu One. We hope that you’ll continue to
support us as together we bring a revolutionary experience to new devices.

The Ubuntu One team
=====

In addition just found this articles. Just in case you need to store your files in cloud.
http://www.omgubuntu.co.uk/2014/04/three-alternatives-ubuntu-one